Minggu, 14 Juni 2026

Bahasa Pewarta

Bahasa pewara adalah bahasa pembawa acara. Dalam praktik penggunaannya di tengah masyarakat pengguna

Tayang:
Editor: bakri

Oleh: Rahmat, Rahmat_zainunabd@yahoo.com, Pengkaji Bahasa pada Balai Bahasa Aceh

Bahasa pewara adalah bahasa pembawa acara. Dalam praktik penggunaannya di tengah masyarakat pengguna bahasa, istilah bersaing lainnya yang kerap digunakan untuk merepresentasikan profesi tersebut adalah MC (master of ceremony).

Sebenarnya, istilah pewara bukanlah bentuk akronim dari pembawa acara, tetapi bentuk turunan dari kata dasar wara ‘berita’ yang dipungut dari bahasa Jawa ditambah prefiks pe- sebagai penanda persona agentis. Secara umum, baik pewara maupun MC mempunyai tugas pokok: membuka, memandu, hingga menutup sebuah acara.

Bedanya, pewara dideskripsikan sebagai pemandu acara yang bersifat formal dan bersifat kenegaraan (seremonial), sedangkan MC cenderung diartikan pemandu acara nonformal, seperti acara hiburan, perayaan ulang tahun, resepsi pernikahan, dan sebagainya. Sesuai dengan judulnya, tulisan ini hanya mengamati pewara atau MC dari sisi bahasa yang mereka gunakan. Kajian sederhana ini perludicermati mengingat masih banyak ditemukan kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh para pewara maupun MC.

Beberapa kesalahan berbahasa tersebut mungkin saja dianggap tidak bermasalah sehingga dilakukan berulang kali. Halini terjadi karena kita tidak terbiasa membiasakan hal-hal yang benar—termasuk sisi bahasa—tetapi terbiasa membiasakan hal-hal yang salah. Akibatnya, yang salah menjadi seolah yang benar karena dominannya pemakaian di tengah masyarakat pengguna bahasa.

Beberapa kesalahan bahasa pewara adalah1) untuk mempersingkat waktu. Jika dianalisis, kata singkat telah mendapat afiks memper-. Fungsi afiks memper- adalah untuk membentuk kata kerja intransitif. Jadi, mempersingkat waktu dapat dimaknai membuat waktu jadi singkat. Pertanyaannya, benarkah waktu dapat dipersingkat? Jawabannya tentu saja tidak. Waktu sudah pasti tidak dapat disingkat karena rentang waktu sehari semalam adalah 24 jam; satu jam, 60 menit; satu menit, 60 detik.

Sebenarnya yang dapatdilakukan bukanlah mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu, misalnya pertemuan semula direncanakan berlangsung 1 jam, tetapi karena cuaca buruk, acara pertemuan pun dipercepat. Akibatnya tentu saja waktunya dihemat sehingga tidak sampai 1 jam, tetapi cukup 30 menit. Kekeliruan kedua adalah penggunaan bentuk jamak berlebihan. Kita sering mendengar frasa nomina para hadirin atau para tamu undangan.

Kata para, berbentuk jamak demikian pula kata hadirin. Kata hadirin berasal dari bahasa Arab artinya semua yang hadir laki-laki, tetapi ketika dipungut ke dalam BI kata hadirin bergenus netral. Jika demikian, bentuk yang tepat adalah hadirin atau para hadir. Namun, bentuk kedua tidak lazim dipakai sehingga kita cukup mengatakan hadirin, atau jika kita menggunakan bentuk bergenus maskulin dan feminin, kita menggunakan hadirin dan hadirat.

Kata tamu dan undangan tidak tepat digunakan sekaligus karena bermakna sama. Bukankahundangan artinya orang yang diundang, yang tentunya bermakna tamu. Oleh karena itu, dapat dipilih bentuk para tamu atau para undangan yang kami muliakan. Kekeliruan ketiga adalah penggunaan ungkapan malam yang berbahagia, kesempatan yang berbahagia, atau tempat yang berbahagia.Sekilas, ketiga ungkapan tersebut terkesan aikbaik saja. Akan tetapi, jika dikaji secara semantispenggunaan diksi berbahagia dirasa kurang tepat.

Kata berbahagia memiliki dua makna, yaitu dalam keadaan bahagia; ajektiva ataumenikmati kebahagiaan;verba. Jika demikian halnya, yang berbahagia seharusnya pronomina (orang) bukan nomina (malam, kesempatan, atau tempat). Dari penjelasan ini, ketiga ungkapan tersebut direvisi agar taat kaidah yang berlaku menjadi “malam yang membahagiakan,” “kesempatan yang membahagiakan,” dan “tempat yang membahagiakan”.

Kekeliruan keempat adalah penggunaankata depan kepada seperti dalam kalimat “Kepada Bapak Auni, saya persilakan,” yang seharusnya dihilangkan. Dalam kalimat ini, kata depan “kepada” umumnya digunakan sebagai penanda peran penerima, bukan peran pelaku. Dalam kasus ini, “Bapak Auni” jelas tidak menerima sesuatu, tetapi justru diminta melakukan sesuatu (atas perintah halus pewara: (saya) persilakan). Kekeliruan kelima adalah penggunaan ungkapan waktu dan tempat kami persilakanseperti dalam kalimat

“Kepada Bapak waktu dan tempat kami persilahkan.” Pada kalimat tersebutada tiga hal yang perlu diperbaiki, yaitu kata depan kepada dihilangkan sebagaimana bahasan di atas, lalu, bentuk persilahkan diubah menjadidipersilakan, tanpa /h/ (baku). Sedangkan ungkapan waktu dan tempat kami persilahkan perlu direvisi agar berterima secara gramatikal dan konsep makna. Waktu dan tempat merupakan benda mati, karena itu tidak dapat dipersilakan.

Jika demikian, kalimat tersebut seharusnya berbunyi,”Bapak Auni kami persilakan.” Atau jika tetap ingin memakai kata waktu dan tempat dapat diubah menjadi,”Bapak Auni kami persilakan, waktu dan tempat kami sediakan.” Lalu, ada pertanyaan manakah bentuk yang tepat disilakan atau dipersilakan.

Menurut penulis kedua bentuk ini dapat dipertukarkan karena memiliki konsep makna yang sama. Salah satu fungsi konfiks diper-kan adalah menyuruh seseorang sama halnya dengan bentuk konfiks di-kan yang salah satunya berfungsi menyuruh seseorang melakukan perkerjaan. Dalam KBBI, kata silakan (verba) bermakna sudilah kiranya (kata perintah yang halus) dan mempersilakan (verba) bermakna meminta secara lebih hormat. Jadi, kedua bentuk disilakan maupun dipersilakan keduanya bentuk pasif yang menghendaki seseorang untuk melakukan sesuatu dengan halus dan hormat.

Kekeliruan keenam adalah penggunaan ungkapan “Para tamu dipersilakan duduk kembali”. Pembawa acara seringkali menyuruh undangan untuk berdiri sejenak untuk menghormati pejabat atau ketika lagu kebangsaan dinyanyikan. Setelah pejabat menempati tempat duduknya atau setelah lagu kebangsaan dinyanyikan, pembawa acara mempersilakan undangan duduk (kembali). Kata kembali sebenarnya tidak perlu dipakai, tanpa kata kembali, undangan mengetahui apa yang harus dilakukan, setelah berdiri. Oleh karena itu,kalimat tersebut cukup dikatakan ,”Para tamu dipersilakan duduk

.” Demikian beberapa masukan terkait penggunaan bahasa pewara di tengah masyarakat kita. Semoga kekeliruan yang dilakukan selama ini dapat diperbaiki agar bahasa kita semakin baik. Semoga bermanfaat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
VS
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved