Tgk Razali, Tukang Boat yang Tetap Bertahan di Ujong Pie

PERIHNYA terik matahari ke tubuhnya seperti tak dihirau lagi oleh Tgk Razali (54). Saban hari, ayah lima anak ini

Tgk Razali, Tukang Boat yang Tetap Bertahan di Ujong Pie
SERAMBI/IDRIS ISMAIL
Tgk Razali (54) tukang pembuat boat di Ujong Pie Laweung, Muara Tiga, Pidie merampungkan beberapa bagian boat ukuran 7 GT, Minggu (11/11). 

PERIHNYA terik matahari ke tubuhnya seperti tak dihirau lagi oleh Tgk Razali (54). Saban hari, ayah lima anak ini menghabiskan waktu di bibir pantai Ujong Pie, Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Pidie, untuk mengerjakan boat pesanan para nelayan dari Muara Tiga maupun berbagai kecamatan lainnya di Pidie. “Saya hanya menerima pesanan pembuatan boat para nelayan di Pidie mulai ukuran mesin tujuh Grose Tone (GT) hingga dua GT,” kata Tgk Razali menjawab Serambi yang menyambangi di galangan mini pembuatan boat di Ujong Pie Laweung, Minggu (11/11).

Bagi kakek dua cucu ini, pekerjaan sebagai tukang boat sudah dilakoninya sejak 28 tahun lalu atau persisnya pada tahun 1990 dan masih bertahan hingga kini. Ia menceritakan untuk pembuatan boat tujuh GT menghabiskan waktu lima hingga tujuh bulan. Harganya per unit setelah jadi mencapai Rp 150 juta.

Sedangkan untuk boat dua GT atau biasanya disebut ‘boat theb-theb’ hanya berkisar Rp 15 juta. Lama pengerjaannya dua hingga tiga bulan, termasuk diakuinya saat ia pernah menerima pesanan pembuatan boat dua GT milik mantan Wakil Bupati Pidie, M Iriawan SE, beberapa tahun lalu.

Menurutnya, penyelesaian pembuatan boat juga sangat tergantung ketersediaan kayu atau papan, sehingga seiring semakin langkanya kayu jenis mane, bran, serta seuntang, dan dama selama ini, maka pengerjaan boat berbahan baku kayu sangat berkualitas itu juga semakin lama. “Kira-kira setiap hari saya bekerja bersama satu rekan kerja, Khairuzzaman, menerima jerih rata-rata Rp 150.000 per harinya,” jelasnya.

Ia menambahkan dalam sepuluh tahun terakhir, setiap tahun rata-rata hanya mengerjakan satu hingga dua boat sesuai pesanan. Namun, di saat waktunya kosong karena tak ada pemesanan pembuatan boat, bukan berarti pria ini bersama rekannya Kamaruzzaman menganggur, melainkan memanfaatkan waktu untuk merehab rehab boat para nelayan. Selanjutnya, ketika job ini juga kosong, mereka bekerja sampingan bercocok tanam di lahan milik warga.

“Sebagai tukang pembuat boat para nelayan dengan segala fasilitas terbatas, kami tetap berusaha bertahan demi mengasapi asap rumah keluarga kami, meski upah apa adanya,” ujar Tgk Razali. (idris ismail)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved