Pengangkutan Batu Gajah Meresahkan

Sejumlah pengendara dan warga mengeluhkan maraknya lalu lalang truk besar bermuatan batu gajah

Pengangkutan Batu Gajah Meresahkan
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Tanah berhamburan disepanjang ruas jalan Blang Paseh-Benteng, Kecamatan Kota Sigli, Pidie oleh truk pengangkut batu gajah 

* Bak Truk tak Pakai Pengaman

TAPAKTUAN - Sejumlah pengendara dan warga mengeluhkan maraknya lalu lalang truk besar bermuatan batu gajah yang melintas di Jalan Nasional Banda Aceh-Tapaktuan, kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan, khususnya pada titik usaha pertambangan galian C. Pasalnya, kendaraan berbadan besar tersebut dengan bebas mengangkut muatan material batu gajah tanpa memasang pengaman pada bak kendaraan.

“Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap pengendara lainnya, karena bisa saja pecahan batu besar itu akan jatuh dan menimpa pengendara yang berada di belakang truk,” kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Pemantau dan Kajian Kebijakan (Formak) Aceh Selatan, Ali Zamzami kepada Serambi, Rabu (14/11).

“Tampaknya, para sopir dan pelaku proyek itu seakan mengabaikan keselamatan pengguna jalan lainnya, karena mereka mengangkut material batu gajah tersebut tanpa menggunakan tutup bak belakang truk,” tandas dia.

Selain itu, tukasnya, pengusaha tambang galian C itu juga terkesan tidak serius melakukan pembersihan badan jalan dari tanah dan lumpur ekses pengangkutan batu gajah di sekitar lokasi tambang yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir jalan, seperti di daerah Blang Kuala dan Jalan Gunong Mancang, Kecamatan Meukek.

“Kondisi tersebut membuat badan jalan menjadi berlumpur dan licin, sehingga sangat merugikan pemakai jalan lain yang melintasi kawasan itu. Sebab, saat melewati daerah tersebut, kendaraan mereka menjadi sangat kotor berlumur lumpur,” ulasnya. “Kalaupun ada pembersihan dengan cara disapu atau disiram, kesannya asal-asalan saja sekedar memenuhi kewajiban. Buktinya, jalan itu tetap penuh lumpur tanah gunung,” tukas dia. Hal tersebut, sebut Zamzami, sangat dikeluhkan banyak para pengendara yang setiap hari melintasi jalan nasional tersebut.

Lebih lanjut, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Pemantau dan Kajian Kebijakan (Formak) Aceh Selatan, Ali Zamzami mengungkapkan, karena usaha tambang galian C dan pengangkutan batu gajah sudah cukup meresahkan warga, maka sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan menegur pemilik usaha tambang tersebut.

“Bahkan, bila perlu melakukan penertiban dengan mengevaluasi dan meninjau ulang izin operasional tambang tersebut. Pemerintah jangan hanya mengutamakan orientasi pemasukan PAD semata, tapi aspek keselamatan dan kenyamanan masyarakat, juga harus menjadi pertimbangan,” pungkasnya.(tz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved