Rehab Jembatan Ulee Raket Mendesak

Rehabilitasi Jembatan Ulee Raket di Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat yang roboh

SERAMBI/RIZWAN
JEMBATAN rangka baja Ulee Raket di Sawang Teube, Kaway XVI, Aceh Barat roboh menyebabkan transportasi dari Kaway XVI ke Pante Ceureumen lumpuh total 

* Pemkab Diminta Bergerak Cepat

MEULABOH – Rehabilitasi Jembatan Ulee Raket di Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat yang roboh, Senin (12/11) dinihari lalu, dinilai sangat mendesak. Oleh sebab itu, sejumlah kalangan di Kecamatan Pante Ceureumen meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat bergerak cepat menangani jembatan penghubung antara Kecamatan Kawai XVI dengan Pante Ceureumen tersebut.

“Jangan biarkan transportasi antarkecamatan terputus lama. Sebab, itu akan mengganggu mobilitas dan roda ekonomi masyarakat,” kata Heri Afriansyah, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Meulaboh kepada Serambi, Rabu (14/11).

Menurut Heri, bila rehab Jembatan Ulee Raket itu lamban dan tidak segera ditangani, maka hal tersebut akan berakibat fatal terhadap masyarakat pada beberapa desa di Kecamatan Kaway XVI dan 25 desa di Kecamatan Pante Ceureumen. “Karena, Jembatan Ule Raket itu merupakan akses utama penduduk dan menjadi urat nadi mereka. Untuk itu, kami meminta Bupati dan DPRK peduli terhadap kondisi penduduk di dua kecamatan tersebut,” ucapnya.

Di sisi lain, dia menyayangkan, telatnya penanganan kerusakan abutment jembatan itu yang sebenarnya sudah lama rusak. Padahal, ulasnya, bila abutment itu ditangani sejak awal, maka insiden robohnya Jembatan Ulee Raket besar kemungkinan bisa dihindari. “Tetapi, karena kurang mendapat perhatian akhirnya berakibat fatal,” tukas Heri.

Sedangkan, Aduwina, tokoh muda Kecamatan Pante Ceureumen mengungkapkan, sebenarnya masyarakat sudah sering mengingatkan pemerintah untuk segera memperbaiki abutmen Jembatan Ulee Raket yang rusak. Namun, sebutnya, pemerintah seperti abai dan terkesan membiarkan kerusakan abutment itu, hingga kemudian berakibat fatal robohnya kembatan.

“Bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat Pante Ceureumen pascaterputusnya Jembatan Ulee Raket. Mobilitas penduduk, PNS, guru, dan siswa, serta masyarakat lainnya, sangat terganggu karena mereka harus memutar jauh untuk keluar. Kondisi ini sangat memperihatinkan,” ujar dosen UTU Meulaboh ini.

Oleh karena itu, Aduwina meminta, penanganan jembatan yang roboh itu harus menjadi prioritas, sehingga masyarakat tidak terlalu lama terisolir. “Pemkab harus secepatnya mengambil langkah, apakah membangun jembatan baru atau menangani jembatan lama yang sebagian masih bisa digunakan,” paparnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR) Aceh Barat, Bukhari yang ditanyai Serambi, Rabu kemarin, menjelaskan, sejauh ini pihaknya masih mengkaji dua opsi dalam penanganan Jembatan Ulee Raket itu. Dia menerangkan, opsi pertama adalah membangun jembatan baru tapi bukan di lokasi sebelumnya, melainkan dipindah ke lokasi baru yakni direncanakan di Pasi Ara.

Sedangkan opsi kedua yaitu, memperbaiki jembatan lama yang sebagiannya masih bisa digunakan. Untuk opsi ini, ucapnya, perbaikannya akan mencakup pembangunan abutmen. “Yang pasti, kami tetap akan tangani dalam tahun 2019 ini,” tukasnya.

Dia membeberkan, Jembatan Ulee Raket yang roboh itu, sejauh ini belum dibongkar pada satu sisi karena menyangkut anggaran yang masih digodok bersama antara Pemkab dengan DPRK Aceh Barat. “Tentu, penanganan jembatan itu menjadi prioritas dinas sehingga akses warga bisa kembali lancar,” tandas Bukhari.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved