Gajah Liar Rusak Rumah Warga

Aksi gajah liar makin meresahkan masyarakat di Kota Subulussalam karena mulai memasuki permukiman penduduk

Gajah Liar Rusak Rumah Warga
Media Sosial
Kolase foto gajah liar mengejar warga Gampong Leupu, Kecamatan Geumpang, Pidie, Minggu (4/11/2018) sekitar pukul 17.35 WIB. 

* Berkeliaran di Perkampungan Penduduk

SUBULUSSALAM - Aksi gajah liar makin meresahkan masyarakat di Kota Subulussalam karena mulai memasuki permukiman penduduk di daerah tersebut. Kabar terbaru, hewan berbelalai itu bahkan nekat masuk ke permukiman penduduk di seputaran Kota Subulussalam yang tak jauh dari jalan jalur, Jumat (16/11) dinihari WIB.

Informasi yang dihimpun Serambi, gajah liar masuk ke permukiman penduduk sekitar pukul 04.00 WIB. Hewan berkuping besar ini masuk ke permukiman warga di Jalan Raja Asal, Desa Subulussalam Utara, Kecamatan Simpang Kiri. Di tempat itu, gajah liar merusak salah satu rumah penduduk yang berkonstruksi papan.

Aksi gajah liar ini terbilang nekat dan ganas. Betapa tidak, rumah yang dirusak itu berada di dekat jalan dua jalur menuju Masjid Agung Kota Subulussalam. “Lokasi kejadian dengan jalan dua jalur hanya berjarak sekitar 50 meter dan sudah masuk dalam wilayah perkotaan,” ujar Alim Bako, warga setempat kepada Serambi, kemarin.

Menurut Alim, rumah yang dirusak merupakan milik kakaknya bernama Bereng. Rumah berkonstruksi kayu itu diduga dirusak gajah liar dengan menggunakan gading. Saat itu, lanjut Alim, kakaknya Bereng mendengar suara grasak grusuk dan meyakini sumber suara dari gajah. Hal ini karena beberapa malam sebelumnya, rumah Bereng juga menjadi sasaran pengrusakan gajah.

Kemudian, Bereng memanggil menantunya untuk mengecek asal suara grasak grusuk. Mereka pun keluar rumah dan melihat seekor gajah berbadan besar menggosokkan tubuhnya ke rumah Bereng hingga goyang seperti diayun gempa. “Akibat gesekan gajah itu, rumah kakak saya rusak. Rumah kakak saya itu hanya terpaut dua puluh meter dari jalan dua jalur. Artinya, gajah itu posisinya sudah di tengah kota,” tukas Alim. Dia membeberkan, aksi gajah di lokasi permukiman penduduk sudah kali kedua. Sebab, Senin (12/11) lalu, seekor gajah juga dilaporkan masuk dan merusak rumah Bereng dengan cara menggosokkan tubuhnya ke dinding rumah.

Secara terpisah, Kepala Desa Belegen Mulia, Bahrin Tumangger yang dikonfirmasi Serambi, beberapa waktu lalu, mengaku aksi gajah liar sudah mulai menjamah permukiman penduduk. Dia menyebutkan, hewan berbelalai panjang itu sudah sering ke areal permukiman warga dalam dua pekan terakhir. Akibatnya, tak sedikit rumah menjadi sasaran, termasuk beras juga digasak hewan bertelinga lebar itu. “Sudah sering masuk ke kampung, ada rumah warga dipecahkan, beras pun digasak,” terang Bahrin.

Konflik Gajah vs Manusia Berlanjut
Berdasarkan catatan Serambi, konflik antara gajah dengan manusia di Kota Subulussalam, bukan hal baru tapi merupakan sejarah yang cukup panjang. Di Kecamatan Sultan Daulat dan Simpang Kiri misalnya, konflik ini sudah berlangsung sejak belasan tahun lalu dan merenggut sejumlah korban yang beberapa di antaranya meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Bahkan, aksi gajah liar itu sempat menguasi perkebunan warga di Kecamatan Penanggalan, tepatnya di Desa Jontor pada tahun 2007 lalu.

Kasus konflik gajah berujung hilangnya nyawa manusia terjadi sekitar tiga bulan lalu. Seorang warga di Desa Bawan, Kecamatan Sultan Daulat tewas akibat diamuk gajah liar yang masuk ke areal kebun kelapa sawit di sana. Pada kasus ini, BKSDA telah berulangkali menerjunkan gajah penjinak untuk menggiring gajah liar agar mudah ditangkap. Namun, aksi BKSDA itu tetap saja tidak mampu meredam konflik tersebut karena hingga sekarang kawanan gajah liar masih saja menjamah sejumlah permukiman penduduk dan merusak perkebunan milik warga, baik di Sultan Daulat hingga ke pusat Kota Subulussalam.(lid)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved