Mantan Pejabat BPD Dieksekusi

Mantan Kepala Bagian (Kabag) Legal dan Support Bank Pembangunan Daerah (BPD) Cabang Lhokseumawe

Mantan Pejabat BPD Dieksekusi
TIGA warga yang mendapat kredit dari Bank Aceh Cabang Lhokseumawe hadir ke ruang sidang Pengadilan Negeri Lhokseumawe untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus kredit macet Rp 75 miliar di PN setempat.SERAMBI/JAFARUDDIN 

* Kasus Kredit Macet Rp 75 M

LHOKSEUMAWE – Mantan Kepala Bagian (Kabag) Legal dan Support Bank Pembangunan Daerah (BPD) Cabang Lhokseumawe--sekarang Bank Aceh–, Ishaq Abdullah, Jumat (16/11) malam, dieksekusi menyusul vonis Mahkamah Agung (MA) terhadap kasus kredir macetk Rp 75 miliar. Ishaq ditangkap tim intelijen Kejari Bireuen dan Lhokseumawe di rumahnya, Desa Paya Meneng, Kecamatan Matang Geulumpang Dua, Bireuen sekira pukul 18.30 WIB.

Dalam salinan putusan MA yang diterima Kejari Lhokseumawe disebutkan, terpidana melanggar Pasal 49 (1) huruf (a) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 yang diubah dengan UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, juncto Pasal 65 (1) KUHPidana. Karena itu, Ishaq divonis lima tahun penjara dan denda Rp 10 miliar dengan subsider (pengganti denda) 6 bulan penjara.

Berdasarkan catatan Serambi, kasus kredit macet Rp 75 miliar di BPD dilaporkan kuasa Subtitusi Bank Indonesia (BI) Banda Aceh, Johansyah ke Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrim) Polda Aceh pada 24 April 2012. Laporan itu setelah ditemukan penyaluran kredit dari tahun 2008 sampai 2010 itu menyalahi ketentuan.

Lalu, Polda Aceh saat itu menetapkan tiga tersangka. Masing-masing tersangka Effendi Baharuddin (almarhum) mantan Pemimpin Bank Aceh Lhokseumawe, Asnawi Abdullah mantan Kepala Bagian (Kabag) Kredit Komersil (sudah dieksekusi dalam kasus tersebut), dan Ishaq Abdullah.

“Kasus itu sudah diputuskan MA pada 2016. Sejak saat itu kita sudah mencarinya, tapi tak berhasil ditemukan. Lalu pada September 2018 kita menerima salinan putusan tersebut, kemudian dikeluarkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO),” ungkap Kajari Lhokseumawe, Muhammad Ali Akbar MH melalui Kasi Intelijen, Miftahuddin SH kepada Serambi kemarin.

Setelah itu, pihak Kajari Bireuen mengabari tersangka berada di rumahnya. Lalu tim Kejari Lhokseumawe dan Bireuen langsung mendatangi rumahnya untuk dilakukan penangkapan. Setelah ditangkap, terpidana dibawa ke Kejari Lhokseumawe yang dikawal polisi. “Tadi malam, kita langsung eksekusi terpidana ke LP Kelas IIA Lhokseumawe untuk menjalani hukuman sesuai putusan MA,” ujar Kasi Intel.

Seperti beritakan sebelumnya, Pengadilan Negeri Lhokseumawe pada 3 Maret 2015 membebaskan Ishaq dari segala tuntutan jaksa, karena dinilai tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Lalu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lhokseumawe mengajukan permohonan kasasi ke MA atas putusan itu.

Informasi yang diperoleh Serambi, ketika petugas tim Intel Kejari Lhokseumawe dan Bireuen mendatangi rumah terpidana, pihak keluarga menyebutkan Ishaq tidak berada di rumahnya. Lalu, setelah magrib petugas langsung menggeledahnya, dan menemukan terpidana dalam kamar mandi. Terpidana kepada jaksa mengaku selama ini bukan kabur, tapi bekerja di luar Aceh.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved