8 TKI Sudah ke Keluarga

Delapan TKI asal Aceh Tamiang yang kabur dari perusahaan perkebunan sawit di Malaysia dipulangkan

SERAMBI/RAHMAD WIGUNA
KASI PSKBS Provinsi Aceh Rohayati Hanum bersama delapan TKI yang kabur dari Malaysia saat tiba di Mapolres Aceh Tamiang, Minggu (18/11) pagi. 

Keberadaan mereka di Langsa tidak lama. Sekira hanya berselang dua jam, rombongan ini kembali bergerak menggunakan mobil menuju Medan. “Di Langsa hanya menunggu TKI lainnya. Setelah semua berkumpul, langsung dibawa ke Medan,” ujarnya.

Ternyata rombongan delapan TKI asal Aceh Tamiang ini tidak sendiri. Di Medan mereka diinapkan satu malam bersama TKI lainnya yang juga berasal dari Aceh, seperti Peureulak dan Bireuen. Rombongan besar ini selanjutnya diberangkatkan ke Pontianak, Kalimantan Barat melalui Bandara Kualanamu, Deliserdang. “Dari Pontianak kami diberangkatkan ke Serawak naik bus. Langsung ke PT SOPB dan langsung bekerja sebagai pemanen sawit,” bebernya.

Khayalan mendapatkan upah tinggi pun langsung pupus setelah mereka hanya dibayar Rp 700 ribu atau 20 sen per tandan sawit. Padahal agen yang merekrut mereka menjanjikan upah Rp 4 ribu per tandan. Kondisi yang tidak sesuai janji ini membuat kedelapannya mulai merencanakan pelarian. “Kami tidak bisa pulang karena paspor kami ditahan,” sambungnya.

Kamis (8/11) sekira pukul 23.00 waktu setempat, pelarian ini pun dimulai. Tanpa bekal yang memadai, kedelapan TKI ini menyusuri areal perkebunan sawit sejauh puluhan kilometer secara berendap-endap dan baru menemui jalan raya setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam.

Berhasil lolos dari areal perkebunan dan berhasil menemukan jalan raya bukan otomatis membuat mereka sepenuhnya senang. Justru ada kekhawatiran keberadaan mereka dipergoki aparat keamanan setempat yang bisa membuat situasi semakin buruk. “Kami sampai di jalan raya jam lima subuh. Kondisi mulai terang. Kalau tidak hati-hati bisa ditangkap polisi karena kami tidak membawa paspor,” tuturnya.

Ketakutan ini membuat mereka memilih bertahan untuk bersembunyi di semak-semak hutan di tepi jalan raya itu. Selang enam jam kemudian atau pukul 11.00 waktu setempat, barulah pertolongan didapat setelah pengemudi mobil pikap memberi mereka tumpangan ke arah Kota Miri, Serawak. Bahkan ada warga setempat keturunan Melayu yang membolehkan mereka menginap satu malam di rumahnya dan dicarikan bus melayani rute perbatasan Malaysia dengan Kalimantan Barat.

Setibanya di perbatasan, bukan berarti perjuangan berakhir. Mereka masih harus mengendap di semak-semak hutan perbatasan yang kemudian dilanjutkan berjalan kaki lima hari menuju Entikong, Kalimantan Barat. Di saat kondisi fisik dan mental mulai menurun, mereka akhirnya berhasil menemukan Polsek Entikong. “Kami buat laporan, kemudian diproses hingga bisa pulang kembali ke rumah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. (mad)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved