Breaking News:

Opini

Maulid dan Aktualisasi Kepemimpinan Profetik

MAULID bukan hanya sekadar tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw pada tataran seremonial belaka

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Santuni anak yatim dalam rangka Maulid Nabi Muhammad saw di Luengputu, Kecamatan Badarbaru, Pidie Jaya. 

Oleh Marhamah

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

MAULID bukan hanya sekadar tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw pada tataran seremonial belaka dan menjadi agenda tahunan. Tetapi lebih dari itu, maulid Nabi saw mengandung makna filosofis-substantif. Peringatan ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk meneladani sikap dan perilaku Rasul, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai cerminan pribadi muslim.

Kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta, ketika manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa, sebagaimana firman-Nya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Meneladani Rasul dan mengikuti sunnahnya merupakan representasi kecintaan yang dilakukan oleh umat terbaik, sebagaimana sabda Nabi saw, “Dan demi Zat yang jiwaku berada di tangn-Nya (Demi Allah), tidaklah beriman seorang di antara kamu, sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya, hartanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari).

Sosok Nabi Muhammad saw dapat dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi. Pertama, dalam perspektif teologis-religius Nabi Muhammad Saw dipahami sebagai Rasul terakhir yang memosisikannya sebagai utusan Allah Swt yang bertugas membawa, menyampaikan serta mengaplikasikan segala bentuk pesan suci Allah (wahyu) kepada umat manusia secara universal.

Dan, kedua, dalam perspektif sosil-politik Nabi Muhammad saw dapat dipahami sebagai sosok politikus handal. Karena Nabi saw identik dengan sosok pemimpin yang adil, egaliter, toleran, humanis, non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial Arab kala itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera dan tentram. Artinya, sebagai pemimpin bangsa Nabi Muhammad saw mampu merekonstruksi suatu citra ke pemimpinan dan masyarakat yang ideal.

Pembangunan manusia
Secara eksplitatif, konsep ke pemimpinan dalam Islam telah disinggung dalam Alquran dan hadis, bahwa ke pemimpinan itu merupakan missen sacre (tugas suci) terhadap pembangunan manusia. Tugas ini merupakan bentuk manifestasi manusia sebagai khalifah fil al-‘ardh (wakil Allah di muka bumi). Sebagai seorang Muslim, ada hal berbeda yang harus dibawa dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam ke pemimpinan. Hal tersebut adalah nilai-nilai ilahiyah yang merupakan acuan yang harus senatiasa diaplikasikan secara komperehensif dalam kehidupan.

Dalam dunia ke pemimpinan, ini menjadi sangat penting untuk dijadikan jati diri dan karakteristik ke pemimpinan. Pemimpin harus disertai visi dan misi ke-Ilahiyahan (ketuhanan) yang kuat, sehingga ia akan memiliki legitimasi ke pemimpinan yang kokoh. Model ke pemimpinan yang berdiri di atas fondasi spiritualitas kenabian yang dikenal dengan ke pemimpinan profetik seperti ini menjadi prototipe ideal dalam masyarakat.

Konsep ke pemimpinan yang beliau bangun bersifat universal, sehingga tidak runtuh oleh ruang dan waktu yang berbeda. Dalam konteks kekinian, aktualisasi ke pemimpinan profetik seperti ini dapat menjadi suatu nilai yang diterapkan dalam menjawab persoalan bangsa.

Ke pemimpinan profetik dimaknai sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang lain dalam mencapai suatu tujuan yang didasari pada sifat-sifat kenabian (prophet). Kekuatan ke pemimpinan profetik ini terletak pada kondisi spiritualitas pemimpin atau yang dikenal dengan istilah memimpin dengan keteladanan (leading by example).

Inspirasi teologis dari ke pemimpinan profetik adalah derivasi dari misi historis Islam yang termaktub dalam firman Allah, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali-Imran: 110).

Dalam konteks ini, ke pemimpinan profetik membawa tiga misi utama, yaitu: Pertama, menyuruh kepada yang baik (amar ma’ruf). Inilah yang disebut sebagai misi humanisasi dengan tujuan “memanusiakan manusia”. Kedatangan Islam menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang tertindas oleh sistem dan struktur yang tidak adil. Kedua, upaya sekuat tenaga untuk mencegah manusia dari perbuatan yang buruk (nahi munkar), yang disebut sebagai misi liberasi atau pembebasan. Hal ini bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan, keterpurukan dan ketertindasan. Misi pembebasan dalam paradigma ke pemimpinan profetik perlu memperhatikan dinamika zaman. Agama sebagai semangat ke pemimpinan profetik tidak lepas dari khazanah berpikir para penganutnya.

Dan, ketiga, beriman kepada Allah (tu’minuna billah) atau misi transendensi dengan tujuan menghidupkan kesadaran ilahiyyah yang dapat menggerakkan ketulusan dan keikhlasan hati dalam hal apapun. Transendensi ini berfungsi untuk menggeser keadaan yang dekaden menuju puncak pencapaian spiritualitas. Dengan misi transendensi ini, pemimpin profetik diumpamakan sebagai receiver dan transmitter pesan Ilahi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved