Opini

Tantangan Guru Era Milenial

PERKEMBANGAN peradaban manusia telah melejit tajam masuk ke dalam dunia digital

Tantangan Guru Era Milenial
SERAMBI/DEDE ROSADI
GURU SMK Gunung Meriah, Aceh Singkil, melakukan aksi mogok mengajar dengan menutup mulut pakai lakban, Selasa (13/11) 

Berbeda di saat kita selaku generasi era 1970-an sampai 1990-an yang menasbihakn guru, orang tua dan RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) sebagai sumber ilmu pengetahuan. Para siswa hari ini mendapatkan pengetahuan dari sumber-sumber yang lebih terpecaya dan levelnya bisa jadi diatas guru-guru mereka sendiri. Mereka bisa mengakses video-video kuliah daring, mengunduh buku-buku penunjang lain secara gratis, atau bahkan berlangganan platform belajar daring.

Seorang guru milenial untuk sekarang dalam kegiatan belajar mengajarnya tidak bisa lagi memposisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Apabila masih ada guru yang masih beranggapan bahwa kebenaran hanya datang dari dirinya maka guru itu sedang menggali kuburan bagi pekerjaan guru. Ini akan memnculkan gejolak yang luar biasa di kalangan para siswa karena dari tangan mereka dapat mengakses sumber belajar lain yang tidak kalah komprehensifnya dari guru yang bersangkutan.

Dalam model pembelajaran dewasa ini kita tidak lagi dapat memposisikan siswa sebagai objek pendidikan. Bisa jadi anak-anak lebih cepat tahu daripada gurunya mengenai hal-hal tertentu karena mereka terlebih dulu mengaksesnya. Maka seorang guru milenial harus memosisikan dirinya selain sebagai guru juga sebagai seorang pembelajar. Guru bersama-sama siswa secara kolaboratif belajar bersama dan sama-sama menemukan ilmu pengetahuan yang sumbernya bisa dari guru atau bisa jadi dari siswanya.

Sebagai mediator
Tak perlu malu sebagai seorang guru di zaman ini untuk beberapa hal kita berucap, “maaf nak, bapak/ibu belum paham betul mengenai hal ini, mari kita belajar sama-sama untuk bisa menjawab permasalahan ini”. Siswa juga tahu gurunya itu bukan dewa yang mahir dan pintar untuk semua hal yang ingin mereka ketahui.

Bagaimana kita sebagai guru bisa memosisikan diri sebagai fasilitator dan mediator yang bisa mendorong dan mengarahkan para siswa untuk dapat menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuannya sendiri dengan cara yang baik dan benar. Ini merupakan esensi dari kurikulum nasional sekarang yang berupaya menghidupkan pemikiran kritis anak-anak melalui discovery learning (pembelajaran dengan upaya menemukan sendiri ilmu pengetahuannya), project based learning (pembelajaran berbasis proyek), dan problem based learning (pembelajaran berbasis problem).

Sebuah sekolah harus menjadi lembaga pembelajar (Senge, 2012) bukan hanya siswanya yang belajar akan tetapi juga seluruh elemen dari sekolah itu adalah pembelajar. Guru juga harus aktif dalam pengembangan kapasitas pedagogis dan kompetensinya. Apabila ini bisa berjalan secara harmonis maka para guru tidak perlu takut posisinya akan digantikan oleh teknologi.

Peran sebagai motivator dan supporter tidak bisa digantikan oleh teknologi. Sentuhan guru untuk menginspirasi siswa tidak bisa dilakukan oleh robot manapun. Sentuhan ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam proses pendidikan, sehingga para siswa dapat menemukan minat dan talentanya, serta menjadikannya berkembang menjadi pembelajar yang mandiri (independent learner).

Beberapa riset telah membuktikan ingatan kepada sekolah tidak pada materi pembelajaran saja yang dilaluinya dari bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Akan tetapi ingatan terhadap sosok guru sebagai figur baik itu positif ataupun yang negatif, itu yang diingat sepanjang hayat oleh seorang pembelajar. Kita cenderung tidak mengingat materi apa yang disampaikan oleh seorang guru tersebut ketika belajar dulu, akan tetapi kita akan fokus mengingat kepada figur dan sosok guru tersebut, baik karena tegasnya, disiplinnya, asiknya, atau bahkan karena faktor kekerasan yang pernah kita alami dengan guru tersebut semasa sekolah dulu. Hal itu yang kita rekam dan teringat dan terus kita kenang hingga dewasa.

Satu peran lain yang harus dijalankan oleh seorang guru adalah guru harus menjadi evaluator yang membangun bagi pengembangan intelektualitas para siswa. Penghakiman kemampuan siswa pada angka-angka tertentu harus didasari pada sistem evaluasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas. Sehingga kita dapat memberikan umpan balik yang tepat tentang arah perkembangan intelektualitasnya pada jalur yang benar.

Lembaga pendidikan tetap sangat dibutuhkan dalam tatanan sosial masyarakat dimanapun didunia ini. Karena lembaga inilah yang menjadikan dunia kita berkembang pada level sekarang ini. Kemajuan teknologi dan komputerisasi telah mewajibkan guru harus berkembang memenuhi kebutuhan pendidikan era digital ini. Keniscayaan besar apabila guru hari ini masih anti-terhadap sistem pendidikan digital. Seorang guru yag hebat adalah guru yang dapat memberikan pengaruh positif bagi siswanya untuk selamanya. Selamat Hari Guru Nasional!

* Nailul Authar, S.H., M.A., Kepala SMP Sukma Bangsa Pidie. Email: nailulauthar@hotmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved