Lindungan Satwa, Komisi II DPRA Belajar ke India

Komisi II DPRA melakukan kegiatan studi banding ke Assam, negara bagian India di wilayah timur

Lindungan Satwa, Komisi II DPRA Belajar ke India
SERAMBI/YOCERIZAL
DEPUTY Commisioner District Nogoun, B Pegu (kiri), berbincang dengan Kepala Bappeda Aceh, Azhari dan Ketua Komisi II DPRA, Nurzahri, di salah satu desa kawasan Kazaringa National Park, Minggu (25/11). 

NEW DELHI - Komisi II DPRA melakukan kegiatan studi banding ke Assam, negara bagian India di wilayah timur. Negara ini berbatasan langsung dengan Myanmar, Buthan, dan Bangladesh. Biaya kunjungan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh World Wide Fund for Nature (WWF) Aceh.

Dalam kunjungan itu, Komisi II turut membawa perwakilan dari instansi dan lembaga lain, di antaranya Kepala Bappeda Aceh Azhari, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh Sahrial, Presidium Balai Sura Inong Aceh Suraiya Kamaruzzaman, dan Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh.

“Kunjungan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengelolan hutan dan satwa di India, karena dukungan dari masyarakatnya sangat kuat,” kata Ketua Komisi II DPRA Nurzahri yang juga mengikutsertakan wartawan Serambi Indonesia dalam kunjungan itu.

Kunjungan dijadwalkan selama 10 hari, sejak 20 hingga 30 November 2018. Daerah yang dikunjungi meliputi Taman Nasional Manas (Manas National Park) dan Kaziranga National Park. Kedua kawasan ini dipilih berdasarkan rekomendasi WWF Aceh.

“Hasil kunjungan ini nantinya akan menjadi salah satu masukan bagi Komisi II dalam penyusunan Qanun Perlindungan Satwa yang rencananya akan disahkan pada tahun 2019,” demikian Nurzahri.

Sementara itu, Spesies Koordinator WWF Aceh Program, Azhar, menjelaskan, pihaknya merekomendasikan kawasan taman nasional Manas dan Kaziranga karena upaya konservasi yang dilakukan pemerintah setempat di kawasan itu dianggap paling berhasil di dunia. Terutama terhadap satwa yang nyaris punah, yakni badak dan gajah.

“Ada kerja sama yang sangat erat dari semua pihak, terutama dengan masyarakat sekitar kawasan sehingga upaya konservasi itu berhasil,” ujar Azhar.

Sebagai gambaran, di Manas sebelumnya sudah tidak ada lagi badak, habis terbunuh oleh para pemburu. Namun setelah kawasan nasional Manas ditetapkan pada tahun 2005, beberapa ekor badak dari kawasan lain di India didatangkan dan saat ini populasinya sudah mencapai 56 ekor. Sementara di Kaziranga sekitar 2.000 ekor

“Badak merupakan salah satu satwa kunci (umbrella species). Perlindungan terhadap badak juga ikut melindungi satwa-satwa lainnya. Nah, itu yang diterapkan di Assam dan di Kaziranga,” terang Azhar. Pihaknya berharap, dari kunjungan ini para pemangku kebijakan di Aceh mendapatkan informasi tentang upaya konservasi satwa, disamping juga tidak menganggu pencarian ekonomi masyarakat sekitar hutan.(yos)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved