RSUZA Kembali Disurvei Akreditasi

Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh kembali disurvei akreditasi oleh lembaga independen Komisi

RSUZA Kembali Disurvei Akreditasi
AZHARUDDIN,Direktur RSUZA Banda Aceh

* Agar Standar Mutu Tetap Terjaga

BANDA ACEH - Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh kembali disurvei akreditasi oleh lembaga independen Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), 26-30 November 2018 di RS tersebut. Akreditasi paripurna yang disandang RS terbesar di Aceh itu resmi berakhir pada November 2018, sehingga harus dilakukan penilaian ulang agar standar mutunya tetap terjaga.

Ada tujuh surveior KARS yang melakukan penilaian di RSUZA, yang mana memiliki kualifikasi di bidang manajemen, medis, dan keperawatan. Mereka adalah dr Lubuk Paindoan Saing SpA, dr Kurniawaty Laniwidjaya Khalik MHA, dr Flora Maya Damanik MARS, dr H Riza Iriani Nasution SpA, dr Afrida Yusuf MS SpOK, Nelwati SKp MKep, dan Desima Br Karo SKep Ns.

Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine kepada Serambi, Senin (26/11) mengatakan, akreditasi sebuah RS merupakan suatu keharusan demi terciptanya pelayanan yang sesuai standar. “Rumah sakit itu padat manusia, padat alat, dan padat sistem, jadi sangat kompleks. Tanpa adanya upaya akreditasi, maka akan sangat susah melayani publik secara aman dan bermutu,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Azharuddin, manajemen RS berkewajiban untuk memastikan institusinya terakrediasi. Bukan sertifikat akreditasi yang terpenting, tapi terimplementasinya standar pelayanan secara baik di rumah sakit. “Tantangan kita bahwa RS harus bisa survive di era BPJS Kesehatan lewat kendali mutu dan biaya. Maka dari itu mulai dari manajemen, dokter, dan paramedis harus paham sistem,” jelas ahli bedah tulang ini.

Terkait penilaian kali ini yang bernama Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi I, katanya, jauh lebih sulit ketimbang Akreditasi KARS Versi 2012 yang diterima RSUZA tiga tahun lalu. “Kalau di tahun 2015 surveiornya berjumlah 5 orang, maka sekarang menjadi 7 orang. Hal ini karena bidang dan durasi penilaiannya bertambah,” ujar Azharuddin.

Tim penilai tersebut akan menelaah dokumen, melakukan wawancara, dan tracing (penelusuran) ke lapangan berbasis bukti. Meskipun optimis, Azharuddin sebut mempertahankan akreditasi paripurna kali ini lebih berat karena bertambahnya parameter penilaian. “Mereka juga akan menilai kita sebagai RS Pendidikan dalam melakukan riset yang bermutu yang turut melibatkan pasien. Tak hanya itu, pengendalian penggunaan antibiotik juga menjadi sorotan,” kata dia.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved