Opini

‘Passing Grade’ Tinggi ‘Cermin Dibelah’

TULISAN Dr Kurdi ST MT berjudul “Revisi Passing Grade Tes CPNS, Mungkinkah?” (Serambi, 13/11/2018), menyisakan banyak kejutan bagi

‘Passing Grade’ Tinggi ‘Cermin Dibelah’
SERAMBI/SUBUR DANI
Para peserta CPNS S1 Kanwil Kemenkumham Aceh, melihat pengumuman passing grade (nilai) usai mrngikuti ujian dengan sistem komputerisasi di kampus Abulyatama, Aceh Besar, Senin (11/9/2017). 

Kalau pembaca sepakat dengan istilah salah asuh, ya itu sesungguhnya termasuk salah asuh. Terutama ketika kita persandingkan keadaan itu dengan kenyataan pahit yang harus ditelan generasi kita saat ini, ketika mereka jeblok dalam menghadapi sistem persaingan yang ketat. Passing grade adalah satu sistem- yang saya yakin dibuat dengan sangat hati-hati, sebagai titian menuju satu keadaan yang baik. Namun ia dipersepsikan tiba-tiba muncul bagaikan monster yang menakutkan. Bahkan, memantik perhatian seorang pimpinan DPRA, yang bereaksi secara serius menuntut kemungkinan penurunan grade (Serambi, 8/11/2018).

Mengaca diri
Dari situasi itu sepatutnya kita dapat mengaca diri, mengambil pembelajaran bahwa passing grade --yang tinggi rendahnya itu relatif-- sesungguhnya merupakan standar. Tergantung seberapa hebat kita ingin menetapkan standar itu. Untuk bangsa yang menginginkan tantangan menjadi bangsa dengan birokrasi yang kuat passing grade tinggi pun sebenarnya tidak masalah. Tetapi sebaliknya, bangsa yang ingin berdamai dengan mimpi-mimpi lama, passing grade tinggi itu masalah besar. Ya, kurang lebih seperti yang saat ini kita lihat.

Orang lebih cenderung menuntut perubahan sistem ketimbang melihat ke dalam; apa yang salah; bagaimana memperbaikinya; perlu strategi apa untuk menghimpun kekuatan agar mampu melompat setinggi passing grade yang ditetapkan. Bagi saya, meratapi passing grade yang tinggi tidak memberikan pembelajaran apa pun.

Memang benar kita harus menelan “pil pahit”, tapi saya pikir itu tidak untuk selamanya, hanya sesaat. Tergantung bagaimana kita kelola dan cara kita keluar dari jebakan ke-dhaif-an itu. Harus kita akui kita dhaif berhadapan dengan sistem itu, tetapi tidaklah bijak bila dalam situasi seperti itu orang secara apriori dan atau reaktif menunjuk ke arah sistem. Janganlah “buruk muka, cermin dibelah”.

Sambil menanti kemungkinan penurunan standar passing grade kalaupun itu dilihat sebagai solusi jangka pendek --katakanlah untuk tahun ini, misalnya. Solusi jangka panjang, menurut hemat saya, perlu menjadi prioritas dari pelajaran passing grade ini, terutama ketika keinginan menurunkan standar tidak dimungkinkan, yaitu: Pertama, memang menyedihkan bila melihat adanya formasi kosong tanpa kita berdaya untuk mengisinya. Tetapi itu, tentu tidak tanpa solusi agar pelayanan tetap dapat berlangsung dengan kualitas yang diharapkan.

Ada dua kemungkinan gagasan untuk hal tersebut, yaitu membagi habis pekerjaan dengan tim yang tersisa dan tingkatkan kapasitas SDM yang ada. Banyak terjadi kesebelasan sepakbola yang bertanding dengan sepuluh pemain karena satu timnya terkena kartu merah, tetapi mampu memenangkan kompetisi. Kemungkinan lain adalah outsource.

Kedua, menggelar paket paket pelatihan dan pendampingan kerja (livelihood training) bagi mereka yang gagal mencapai standar passing grade. Inisiatif ini diperlukan untuk membantu mereka menemukan jalan keluar dari keterhimpitan pendapatan (income). Bagi saya mereka memiliki modal yang cukup untuk itu, karena mereka dari kalangan terdidik.

Di samping itu saya perkirakan umumnya mereka enjoy dengan hasil yang mereka dapat, walau gagal lulus. Tidak putus asa. Mereka melalui pelatihan itu dapat memilih jenis kapasitas yang mereka ingin geluti, baik untuk memampukan mereka masuk ke industri maupun bisnis. Pemerintah melalui departemen terkait dapat mengembangkan ide dan strategi ini dengan kalangan bisnis dan profesional.

Ketiga, ini porsi perguruan tinggi. Yaitu melihat kemungkinan membangun mekanisme pendaratan (landing mechanism) dari setiap prodi yang digelar. Saran ini tidak bermaksud meniadakan pilar-pilar keilmuan yang telah dibangun di berbagai program studi (prodi) --karena hal itu tentu telah melalui satu kajian mendalam secara komprehensif-- tetapi mendorong tumbuhnya pandangan untuk mempertimbangkan arah kemana alumni prodi yang bersangkutan kemudian akan menuju.

Beberapa prodi mungkin telah dan atau sedang mengalami merger, tentu dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya saya harap pertimbangan kelayakan kerja alumni. Saya tidak hendak mengeneralisir, tetapi mungkin prodi-prodi tertentu perlu melakukan kajian lebih mendalam, terutama dalam melihat kecenderungan arah industri 4,0, di mana diperkirakan akan ada sejumlah profesi yang saat ini ada akan hilang pada 2030.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved