Bupati Shabela: Kami Kewalahan

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, mengungkapkan kewalahannya dalam mengelola ekosistem Danau Lut Tawar

Bupati Shabela: Kami Kewalahan
Danau Lut Tawar 

* Jaga Kelestarian Danau Lut Tawar

TAKENGON - Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, mengungkapkan kewalahannya dalam mengelola ekosistem Danau Lut Tawar agar lestari. Untuk itu, ia mengharapkan dukungan dari pemerintah provinsi, baik dari sisi dana maupun Sumber Daya Mmanusia (SDM).

Shabela menyingung hal itu dalam acara seminar Tata Kelola Pemerintahan yang dibuka langsung oleh Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah. Acara berlangsung di

Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Jumat (30/11), yang diikuti sejumlah aparatur eselon I, II, III dan IV dari seluruh kabupaten/kota se-Aceh.

“Kami kewalahan. Terus terang Pemkab Aceh Tengah tidak punya kemampuan keuangan dan SDM yang memadai untuk mengelola danau kebanggaan masyarakat Gayo ini,” ucap Shabela dalam seminar tersebut.

Dia mengungkapkan, Danau Lut Tawar saat ini mulai tercemar. Banyak sampah menumpuk di dasar danau sehingga berdampak pada ikan yang menjadi habitat danau tersebut. Tidak hanya itu, beberapa spesies ikan juga menghilang. Kondisi ini, lanjutnya, juga berdampak pada beberapa daerah yang dialiri air dari danau tersebut.

Seperti diketahui, danau seluas 5.472 hektare dengan panjang 17 kilometer dan lebar sekitar 3,219 kilometer ini merupakan tempat populasi ikan depik, ikan yang hanya ada di Danau Lut Tawar.

Namun sayangnya, populasi ikan depik terus menurun, yang terjadi sejak 20 tahun terakhir. Kondisi ini di antaranya disebabkan menyusutnya debit air, serta pencemaran oleh limbah dan penggunaan bahan kimia pertanian.

Selain ikan depik, Danau Lut Tawar juga menjadi tempat tinggal sejumlah spesies ikan lainnya. Wikipedia menyebut, ada 37 jenis ikan yang mendiami danau terluas di Aceh ini. Tetapi hasil survey yang pernah dilakukan peneliti Unsyiah pada tahun 2007 lalu, ditemukan sekurang-kurangnya hanya 11 jenis ikan.

Di samping itu, selain menjadi sumber kehidupan para nelayan setempat, Danau Lut Tawar juga merupakan salah satu lokomotif pariwisata di Aceh Tengah. Data yang diperoleh Serambi, tahun 2017, total kunjungan wisatawan mencapai 2.9 juta orang. Terdiri dari 2,8 juta wisatawan domestik dan 78.000 wisatawan mancanegara.

Berdampak ke Kabupaten Lain
Danau Lut Tawar merupakan muara bagi 25 aliran sungai yang mengalir ke Krueng Peusangan di Kabupaten Bireuen.

Luas DAS Krueng Peusangan ini mencapai 238.550 hektare, yang panjang sungai utamanya dari pinggir laut Bireuen hingga ke Danau Lut Tawar mencapai 128 kilometer. Sementara anak sungainya mengalir ke Kabupaten Bener Meriah, Aceh Utara, Bireuen, dan Kota Lhokseumawe.

Berkurangnya debit air di Danau Lut Tawar sebagai dampak dari perambahan hutan membuat kondisi DAS Peusangan menjadi kritis. Karena itu lah, Bupati Shabela memastikan bahwa kerusakan ekosistem danau juga akan berdampak ke kabupaten lain.

“Jika kawasan dan ekosistem danau Lut Tawar ini terus terganggu atau bahkan rusak, bukan masyarakat Aceh Tengah saja yang rugi, namun beberapa kabupaten lain ikut merasakan dampaknya,” pungkas Shabela Abubakar.(my)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved