Jembatan Gantung Alue Keumang Miring

Banjir yang melanda Aceh Barat dan sempat merendam empat kecamatan, Senin (3/12), sudah berangsur-angsur

Jembatan Gantung Alue Keumang Miring
SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS
WARGA mencoba menyeberangi sepeda motor melewati jembatan gantung Teupin Panah, Peulimbang yang kondisinya rusak dan rawan putus, Jumat (24/8).SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

* Abutment Digerus Erosi
* Banjir Sudah Surut

MEULABOH - Banjir yang melanda Aceh Barat dan sempat merendam empat kecamatan, Senin (3/12), sudah berangsur-angsur surut. Namun begitu, ekses banjir telah menyebabkan erosi Krueng Meureubo mengganas sehingga jembatan gantung Alue Keumang, Kecamatan Pante Ceureumen terancam roboh.

Informasi yang diperoleh Serambi, Senin kemarin, jembatan gantung Alue Keumang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Pante Ceureumen dengan panjang 120 meter. Abutment jembatan itu pada sisi Alue Keumang semakin parah digerus erosi sehingga menjadi miring. Kondisi ini diperparah musibah banjir yang kembali melanda kawasan itu dalam dua hari terakhir.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, kemarin, turun ke lokasi jembatan gantung Alue Keumang untuk melihat titik yang terkikis. Pada sisi arah Menuang Kinco sudah ditanggani beberapa waktu lalu.

“Kondisi jembatan gantung sudah miring karena abutment terus digerus erosi. Kita khawatir, bila banjir kembali terjadi, bisa ambruk abutment sehingga jembatan ikut roboh,” kata Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Aceh Barat, Kismar Turangga kepada Serambi, usai turun ke lokasi.

Sementara itu, banjir yang mengepung hampir 10 kecamatan dalam empat kecamatn di Aceh Barat, Senin (3/12) sudah surut. Banjir yang paling parah sebelumnya merendam Kecamatan Woyla Barat, Woyla Timur, dan Arongan Lambalek. Imbasnya, akses jalan dan rumah penduduk serta sekolah ikut terendam.

Menurut Koordinator TRC BPBD Aceh Barat, Kismar Turangga, pantauan pihaknya, sejauh ini banjir sudah surut total di semua kecamatan. Saat ini, beber dia, warga sudah mulai membersihkan rumah mereka dari sisa lumpur dan kotoran bekas banjir.

Ia menambahkan, bantuan masa panik untuk korban banjir sudah disalurkan oleh Pemkab Aceh Barat yang langsung dihadiri Bupati Ramli MS, kepala BPBD, dan kadis sosial setempat. Diharapkan, bantuan masa panik itu dapat membantu meringankan derita para korban. “Meski sudah surut, tim masih terus memantau di lapangan, apalagi mendung tebal masih menyelimuti wilayah Aceh Barat,” ungkapnya.

Kapolsek Woyla Barat, Iptu Supianto yang ditanyai Serambi secara terpisah, kemarin, juga membenarkan bahwa banjir sudah surut di wilayahnya. Dia mengakui, sebelumnya sejumlah desa di kecamatan itu sempat dikepung banjir dalam dua hari terakhir setelah hujan lebat melanda wilayah tersebut yang membuat Krueng Woyla meluap.

Laporan lain yang diperoleh Serambi mengungkapkan, sejumlah sekolah yang terendam banjir dalam dua hari terakhir pada Senin (3/12) kemarin, mulai membersihkan ruangan serta pekarangannya dari lumpur dan puing-puing yang dibawa banjir. Keadaan ini memaksa proses belajar mengajar (PBM) diliburkan sementara sampai sekolah tuntas dibersihkan.

Situasi itu terlihat di SDN Napai, Kecamatan Woyla Barat yang merupakan sekolah terparah terendam banjir. “Untuk hari ini (Senin kemarin-red), masih libur. Karena masih fokus bersihkan puing banjir,” ujar sumber Serambi di Woyla Barat.

Selain SDN Napai, sekolah lain sudah duluan membersihkan puing banjir seperti SDN Lhok Mane. Demikian juga sekolah di Woyla Timur dan Arongan Lambalek. “Banjir di daerah kami Woyla Timur juga sudah surut. Kalau sekolah sudah normal,” kata Keuchik Gampong Baro KB, M Nasir.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh Barat, Husensah MPd saat ditanyai, kemarin, membenarkan, ada sejumlah sekolah terendam banjir. Bahkan, diakuinya, SDN Napai merupakan sekolah yang sering terendam banjir setiap kali kawasan itu diguyur hujan lebat.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved