Abdya-Galus Lumpuh Total

Arus transportasi darat dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menuju ke Kabupaten Gayo Lues (Galus)

Abdya-Galus Lumpuh Total
Tumpukan longsor yang sudah dibersihkan pada kawasan jalan Gunung Singgah Mata menuju Beutong Ateuh 

* Jalan Tertimbun Longsor dan Batang Kayu

BLANGPIDIE - Arus transportasi darat dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menuju ke Kabupaten Gayo Lues (Galus) dan sebaliknya, lumpuh total sejak Minggu (9/12) malam. Tebing di kawasan Gunung Singgah Mata yang berjarak 22 kilometer dari Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Abdya mengalami longsor bersama batang kayu dan bongkahan batu sehingga menimbun badan jalan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Abdya, Amiruddin mengatakan, begitu mendapat informasi itu, dia bersama sejumlah anggota termasuk personel kepolisian langsung bergerak ke lokasi titik longsor, Senin (10/12) siang. “Tak kurang empat mobil angkutan ukuran sedang dan 20 unit sepeda motor (sepmor) dari arah Terangun, Galus menuju Abdya masih terjebak di lokasi longsor,” kata Amiruddin kepada Serambi, kemarin.

Dia menjelaskan, lokasi longsor di lintasan tengah Aceh tersebut terjadi di atas Gunung Singgah Mata. Titik longsor itu berada di kawasan hutan yang tidak berpenghuni.

“Dugaan kita, tebing gunung tersebut runtuh dalam peristiwa hujan lebat, Minggu (9/12) malam. Saat tebing gunung longsor, sejumlah pohon kayu dan batu gunung juga ikut terseret yang kemudian menutup badan jalan sepanjang belasan meter,” jelasnya.

Karena material longsor cukup tebal ditambah lagi dengan batang kayu dan batu dalam jumlah besar menutup badan jalan, ujarnya, membuat pengemudi dan penumpang memilih meninggalkan mobil mereka di lokasi. Mereka kemudian melewati timbunan longsor itu dengan cara merangkak atau memanjat. Bahkan, beberapa sepeda motor sengaja digotong bersama untuk melalui timbunan longsor yang tebal dan sangat licin tersebut.

Amiruddin menerangkan, pihak BPBD Abdya telah mengerahkan alat berat jenis beko ke lokasi untuk membersihkan material longsor dan batang kayu yang menutup badan jalan. Tapi, proses pembersihan itu agak tersendat karena material longsor yang menutup badan jalan tersebut cukup tebal dan penuh dengan kayu serta batu gunung. “Apalagi, hujan masih mengguyur lokasi sehingga pekerjaan pembersihan material longsor dengan alat berat cukup terkendala,” ucapnya.

Sementara itu, lintas Aceh Barat Daya (Abdya)-Gayo Lues (Galus) via Gunung Singgah Mata itu selama ini menjadi rute bagi warga Galus memasarkan hasil pertaniannya ke Abdya, terutama cabe merah dan tembakau. Selain itu, Jalan tembus Ie Mirah, Abdya-Terangun, Galus sepanjang 119 km ini juga merupakan akses utama bagi sebagian pelajar yang menuntut ilmu di luar Gayo Lues.

Sebaliknya, warga Abdya memakai jalur itu untuk membawa bahan pokok, termasuk ikan basah guna dipasarkan ke Terangun, Galus. Tak heran, rute yang sebenarnya cukup berat karena masih ada tanjakan terjal maupun turunan tajam, tetap ramai dilintasi masyarakat dua kabupaten itu.

Lintas tengah Aceh tersebut sebenarnya telah dilakukan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jalur yang masuk kawasan Abdya belum tuntas dibangun, khususnya antara kilometer 18 sampai km 30, tepatnya di perbatasan Abdya dengan Galus.

Karenanya, badan jalan sepanjang sekitar 12 km dalam kawasan hutan itu masih terdapat tanjangan tinggi yang sangat berbahaya. Seperti ungkapkan Aman Ros, salah seorang warga yang baru saja pulang dari Galus kepada Serambi, Senin sore kemarin, tanjakan terjal yang cukup mengerikan itu berlokasi di jembatan dua yang letaknya sekitar 2 km dari lokasi longsor yang baru saja terjadi.

“Saking berbahayanya tanjangan tinggi itu membuat beberapa warga yang pernah melewatinya menjadi tidak berani lagi melintasi jalur tersebut untuk kembali ke Abdya. Mereka lebih memilih pulang via jalur lain melalui Blangkeujeren,” ungkap Aman Ros.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved