Meraup Rupee dari Program Konservasi Satwa

BEBERAPA wanita India dengan pakaian tradisional hilir mudik menyiapkan makanan di hamparan sebuah bukit kecil

Meraup Rupee dari Program Konservasi Satwa
SERAMBI/YOCERIZAL
PARA kaum perempuan di kawasan Manas Nastional Park, Assam, India, menjajakan barang kerajinannya berupa hasil tenun kepada rombongan Komisi II DPRA, seusai menyajikan makan siang. 

BEBERAPA wanita India dengan pakaian tradisional hilir mudik menyiapkan makanan di hamparan sebuah bukit kecil, di kawasan Kaziranga National Park. Beberapa meja dan kursi juga sudah tersusun. Tak ada tenda, hanya pepehonan sekililing yang jadi peneduh.

Jamuan makan siang itu khusus ditujukan kepada kami, rombongan Komisi II DPRA yang berkunjung ke Assam pada 20-30 November 2018. Jamuan yang sama juga kami alami saat berada di Manas National Park beberapa hari sebelumnya. Belakangan baru kami ketahui bahwa itu merupakan bagian daripada komitmen antara masyarakat dengan pemerintah dan pihak swasta, sebagai salah satu kompensasi atas program konservasi satwa di dua kawasan taman nasional tersebut.

Dalam kesepakatan itu, setiap kebutuhan makanan dan kue untuk para tamu diserahkan kepada kelompok perempuan masyarakat setempat. Demikian juga untuk kebutuhan hiburan seperti tarian, souvenir dan alat-alat kerajinan lainnya. Maka tak heran selama berada Manas dan Kaziranga, selalu saja ada tempat kerajinan masyarakat yang kami singgahi, sehingga membuat kami, mau tak mau terpaksa merogoh rupee untuk membelinya.

Para kaum prianya juga mendapatkan bagian. Mulai dari guide, sopir jeep safari (disebut jipsy) dan bus, serta menjadi bagian dalam satuan pengamanan hutan. “Kalau Manas ini tidak ada, kami tidak tahu lagi harus bekerja apa,” kata warga setempat yang bekerja sebagai jipsy.

Tidak hanya itu, dua bagian dari uang tiket masuk ke kawasan sanctuary juga diberikan kepada komunitas masyarakat sekitar kawasan. Untuk diketahui, harga tiket masuk untuk turis asing mulai dari 1.000-2000 rupee dan sewa jeep 3.000-5.000 rupee, sehingga total menjadi 4.000-7.000 rupee atau sekitar Rp 800.000-1.500.000. Jika membawa kamera foto atau kamera video, maka harus merogoh 500-1000 rupee lagi.

Di luar kawasan sanctuary, keberadaan satwa-satwa liar ini juga menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat. Seperti di Jasingfaa Aqua Tourism Resort, sebuah tempat wisata berbasis ikan. Namun yang menjadi daya tarik di tempat ini bukan lah ikan, melainkan burung. Jasingfa menjadi tempat singgah bahkan tempat tinggal bagi ribuan burung-burung. Pihak pengelola mengutip bayaran sebesar 20 rupee bagi masyarakat yang ingin memotret.

Hampir semua celah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meraup rupee, dan ternyata inilah kunci keberhasilan konservasi satwa di Assam. “Kesuksesan konservasi jika spesies selamat, ekonomi masyarakat juga selamat,” kata Head Assam Landscapes WWF-India, Dr Anupam Sarmah.

Disamping itu, Pemerintah Assam juga menerapkan aturan yang sangat tegas terkait perburuan satwa, dengan sanksi hukuman penjara 7-10 tahun. Itu pun jika tidak terbunuh, sebab khusus di kawasan sanctuary, polisi hutan diizinkan menembak dan mereka memiliki kekebalan hukum atas terbunuhnya pemburu. Sepuluh tahun terakhir, setidaknya sudah 150 pemburu yang terbunuh.

Kecepatan kendaraan di Jaringan Jalan Asia (Asian Highway Network) yang di beberapa titik ditetapkan sebagai koridor (jalur lalu lintas) satwa, juga dibatasi maksimal hanya 40 km/jam. Mobil-mobil polisi terlihat standby memantau kecepatan kendaraan. Apabila kedapatan melampaui batas, maka akan mendapat denda sebesar 5.000 rupee atau setara Rp 1.000.000-an, sebuah jumlah yang tidak kecil bagi sebagian besar masyarakat India.

***

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved