Breaking News:

Tiga Peneliti Luncurkan Policy Brief untuk Panduan Masa Depan Aceh

Tiga peneliti meluncurkan Policy Brief untuk panduan kebijakan masa depan Aceh dalam menentukan arah pembangunan,

For Serambinews.com
Peluncuran Policy Breif itu dilangsungkan dengan seminar bertema “Meneguhkan Syariat Rahmatan Lil ‘alammin di Bumi Aceh: Toleransi Aktif Untuk Kewargaan Yang Setara” di Aula Pascasarjan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu (22/12/2018). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Tiga peneliti meluncurkan Policy Brief untuk panduan kebijakan masa depan Aceh dalam menentukan arah pembangunan, terutama pada isu-isu krusial seperti potensi konflik, ketegangan sosial dan pelaksanaan syariat Islam.

Policy Brief adalah dokumen uraian dasar rasional dalam pemilihan sebuah alternatif kebijakan khusus atau rangkaian tindakan dalam sebuah kebijakan saat ini.

Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan memberi masukan bagi pemerintah Aceh dalam menginisiasi kebijakan yang lebih efektif.

Peluncuran Policy Breif itu dilangsungkan dengan seminar bertema “Meneguhkan Syariat Rahmatan Lil ‘alammin di Bumi Aceh: Toleransi Aktif Untuk Kewargaan Yang Setara” di Aula Pascasarjan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu (22/12/2018).

Baca: Penelitian Membuktikan Ternyata Produk Organik Justru Lebih Merugikan Bumi

Ketiga peneliti tersebut antara lain, Arskal Salim, Professor Politik Hukum Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Moch Nur Ikhwan, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta, dan Prof Dr Eka Sri Mulyani, MA, Profesor pada bidang sosiologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Policy Brief itu diluncurkan untuk menyampaikan kepada publik, terutama kepada para pemangku kepentingan tentang sejumlah isu krusial yang diamati, pendekatan atau strategi penanggulangan yang dapat diupayakan, serta beberapa rekomendasi perumusan kebijakan yang perlu ditindaklanjuti.

Baca: Peneliti Sedang Siapkan Baterai Ponsel Masa Depan, Hanya Perlu Dicas Seminggu Sekali

Prof Dr Arskal Salim pada sambutan perdana menyampaikan isu toleransi yang juga menjadi kajian penelitiannya.

Namun, menurutnya pada kajian penelitian yang dilakukan lebih melihat toleransi dalam dua dimensi aktif dan toleransi pasif.

Saat ini menurutnya, konsep toleransi masih terpahami secara pasif dan asimetris.

Baca: Peneliti Ungkap Dampak Mengerikan Jika Anak Gunakan Smartphone Lebih dari 7 Jam dalam Sehari

Kesadaran untuk mendorong diri dan warga untuk saling menghargai perbedaan tiap-tiap kelompok warga dalam beragama, menjalankan ibadah, dan tradisi keyakinan masing-masing agaknya secara umum belum menjadi mainstream etika sosial.

Halaman
12
Penulis: Yusmadi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved