Breaking News:

Erupsi Gunung Krakatau Tahun 1883, Seluruh Dunia Menjadi Gelap dan 'Mencekam'

Gunung Anak Krakatau merupakan kaldera atau fitur vulkanik yang terbentuk akibat erupsi besar Gunung Krakatau pada abad ke-19.

Editor: Amirullah
Instagram/didikh.017
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018) 

Laporan Wartawan Gridhot.ID, Septiyanti Dwi Cahyani

SERAMBINEWS.COM - Peristiwa tsunami yang menerjang pantai-pantai di sekitar Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam kemarin masih menyisakan duka yang mendalam.

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda itu mengakibatkan ratusan orang meninggal, ribuan orang luka-luka dan puluhan orang masih dinyatakan hilang.

Dilansir dari Kompas.com, BMKG menyebutkan ada dua peristiwa yang kemungkinan menjadi penyebab tsunami tersebut.

Yakni aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi karena cuaca di perairan Selat Sunda.

Baca: Warga Subulussalam Ikut Jadi Korban Tsunami Selat Sunda, Begini Kisahnya Saat Digulung Gelombang

Baca: Temuan Baru Tentang Bumi di Tahun 2018, Benua Afrika ‘Terbelah Dua’ Hingga Suara Tanaman

Baca: Ferdinand Hutahaean Sindir Jokowi Pencitraan saat Tinjau Lokasi Bencana: Saya Bukannya Benci

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa meraka masih mendalami apakah gelombang tsunami dan aktivitas Gunung Krakatau selama beberapa bulan terakhir memiliki keterkaitan.

Lebih dari 400 letusan kecil terjadi pada Gunung Anak Krakatau ini.

Gunung yang terletak di tengah laut atau yang berada di pinggir pantai seperti Gunung Anak Krakatau ini sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan volcanogenic tsunami.

Gunung Anak Krakatau merupakan kaldera atau fitur vulkanik yang terbentuk akibat erupsi besar Gunung Krakatau pada abad ke-19.

Menurut beberapa catatan sejarah, Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.20.

Halaman
1234
Sumber: GridHot.id
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved