Breaking News:

Kisah Tsunami 2004

Bersama Anak di Gendongan, Berkali-kali Diseret Gelombang Hingga Tersangkut di Pohon Kelapa

Tiba-tiba air pur surut ke laut. Bersamaan dengan itu saya pun terseret lagi air surut tersebut dan tersangkut di pucuk kelapa.

Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/IST
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh saat bencana tsunami terjadi 26 Desember 2004 

HARI itu, seperti kebiasaan saya di pagi minggu, melakukan aktivitas di dapur, yaitu masak, cuci piring, dan mengalirkan air ke bak mandi untuk persiapan mandi sang buah hati Ariq Kasyifurrahman, 2 tahun, dan mencuci pakaian, sedangkan suami, Bakhtiar 50 tahun masih rebahan di atas ranjang menemani anak
yang masih tertidur lelap di kamar.

Tiba tiba bumi bergoyang, bahkan berguncang dengan kuat. Setelah menyadari bahwa goyangan itu adalah gempa, saya cepat-cepat lari ke kamar tidur untuk membangunkan suami dan menggendong si buah hati. Kemudian, saya keluar dari rumah untuk menghindari dari kemungkinan robohnya bangunan yang selama ini menjadi tempat perlindungan dari panas dan hujan.

Kurang lebih 15 menit gempa berhenti. Bersama suami tercinta saya mencoba melihat ke dalam rumah, piring-piring semua jatuh berserakan, pecah di lantai, kaca-kaca pun tak mampu menahan getaran
kuat itu, air di dalam bak pun yang mulanya penuh terhempas hingga tinggal separuh
Berapa saat saya membereskan barang-barang yang berhamburan akibat gempa, tiba-tiba bumi bergoyang lagi untuk kedua kalinya.

Secara spontan saya bersama suami serta buah hati keluar lagi dari rumah. Untuk beberapa waktu saya tidak berani masuk ke dalam rumah, takut jika terjadi gempa lagi. Perkiraan saya tak meleset, gempa susulan ketiga pun datang. Setelah gempa yang ketiga ini terdengar teriakan orang yang berlarian dari arah dekat laut dengan sejuta ekspresi ketakutan. Mereka berlari sambil berteriak "Air laut naik..., air laut naik..!".

Ketika melihat ke arah teriakan itu, saya merasa bingung. Dari kejauhan terlihat gelombang hitam yang cukup tinggi bergerak dengan cepat menuju darat. Gelombang yang bergulung-gulung tersebut menerjang apa saja yang menghalanginya, pohon-pohon terhempas, tiang-tiang listrik patah, dan bangunan-bangunan pun tidak mampu menghadang laju gelombang dasyat itu.

Melihat pemandangan yang sangat menakutkan itu, suami cepat-cepat masuk ke rumah untuk mengambil sepeda motor guna menjadi alat kami berlari, tetapi perhitungan saya tidak mungkin lari dengan sepeda motor sebab posisi gelombang itu sudah terlalu dekat.

Saya bersama suami serta anak dalam gendongan mencoba menyelamatkan diri dengan naik ke tembok pagar tetangga yang tingginya kurang lebih 2 meter. Sesaat kemudian gelombang yang tingginya sebatas leher saya, yang datang dari arah Alue Naga dengan cepat dan deras menerjang tembok.

Gelombang itu pun berlalu dan kami masih bertahan di tembok pagar itu. Sesaat kemudian, gelombang yang lebih besar yang berasal dari arah Lampulo datang lagi dan menghantam tembok, kami pun terhempas dan terlepas dari tembok itu. Akhirnya kami bertiga tergulung-gulung dan
diseret air berlumpur pekat itu.

Sementara itu tangan kiri terus berusaha menyelamatkan
anak, sedangkan tangan kanan berusaha mencari apa saja agar tetap bisa mencapai
permukaan air. Akan tetapi, untuk beberapa waktu usaha tersebut belum berhasil. Dalam keadaan ini saya sudah terpisah dengan suami. Setelah beberapa saat dibawa gelombang serta diombang-ambing dengan posisi berdiri
sambil timbul tenggelam, saya dan anak yang ada pelukan tersangkut di tumpukan balok- balok kayu di atas kafe Geumuluh Desa Lambaroskep. Posisi ini saya gunakan untuk membenahi gendongan anak.

Tiba-tiba air pur surut ke laut. Bersamaan dengan itu saya pun
terseret lagi air surut tersebut dan tersangkut di pucuk kelapa. Tidak begitu lama datang gelombang kecil berkali-kali dan melepaskan saya dari pucuk kelapa dengan terus tetap
mendekap anak dalam pelukan. Setelah terhempas dan lepas dari pohon kelapa, dengan tangan kanan saya pegang sebuah ranting, namun terlepas karena pohonnya pun patah.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved