Gajah Kembali Masuk Kampung

Kawanan gajah liar kembali masuk ke perkampungan warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah

Gajah Kembali  Masuk Kampung
Salah satu gubuk warga di kebun karet milik warga di robohkan oleh kawanan gajah liar di Desa Sumambek, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, Selasa (15/5). 

* Sembilan Rumah Dirusak

REDELONG - Kawanan gajah liar kembali masuk ke perkampungan warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. Menurut keterangan camat, gajah-gajah itu masuk sejak sepekan lalu, dan hingga saat ini tercatat sudah sembilan rumah yang dirusak oleh mamalia raksasa tersebut.

“Delapan rumah yang dirusak berada di Kampung Persiapan Sejahtera, dan subuh tadi (kemarin) satu rumah dirusak di Dusun Sosial, Kampung Menderek. Jadi total keseluruhan ada sembilan rumah yang dirusak,” sebut Camat Pintu Rime Gayo, Samusi Purnawira Dade, kepada Serambi, Selasa (25/12).

Informasi yang ia terima, keseluruhan ada sekitar 15 ekor gajah yang terbagi dalam tiga kawanan, tersebar di beberapa lokasi. Hal ini membuat pihaknya kesulitan melakukan penggiringan. Saat ini pihaknya bersama Tim 8 (tim penggiring) tengah melakukan survei wilayah dan pemetaan untuk mempersiapkan penggiringan dalam beberapa hari kedepan.

“Pemetaan tersebut termasuk melihat jalur masuk gajah-gajah liar tersebut, karena biasanya dimana dia masuk, disitu juga gajah tersebut keluar,” tambah Dade.

Bagi warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo, masuknya gajah liar sudah menjadi hal biasa. Karena itu, warga tidak terkejut atau panik saat gajah-gajah liar tersebut mendatangi rumahnya. Mereka memilih tetap diam di dalam ketimbang lari ke tempat lain. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Karena sudah terbiasa, warga tidak panik dan memilih tetap diam di dalam rumah. Karena menurut pengalaman dan keyakinan warga, jika gajah tahu ada orang di rumah, biasanya tidak akan merusak semuanya, hanya merusak bagian dapur saja untuk mencari makanan,” jelas Camat Dade.

“Namun demi keselamatan, kita telah menganjurkan kepada sembilan keluarga yang rumahnya dirusak itu untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dan jauh dari jangkauan gajah liar,” imbuhnya.

Diakuinya, gajah-gajah itu selalu datang ke pemukiman warga disebabkan semakin sempitnya habitat, seiring dengan dengan bertambahnya pemukiman warga dan pembukaan lahan. ”Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, yang harus kita prioritaskan saat ini bagaimana melakukan penggiringan sehingga gajah kembali ke hutan,” ucapnya.

Pihaknya juga telah berupaya menghadang masuknya gajah dengan membangun parit di jalur masuk yang berbatasan langsung dengan perkampungan. “Tetapi kenapa gajah kembali masuk? Itu dikarenakan faktor alam, dimana parit isolasi untuk menghalau gajah mengalami longsor. Biasanya parit yang longsor tersebut menjadi jalan masuk gajah kepemukiman warga,” demikian Camat Pintu Rime Gayo.

CRU Das Peusangan tak Berfungsi
Camat Pintu Rime Gayo, Samusi Purnawira Dade, juga menyinggung keberadaan Conservase Response Unit (CRU) DAS Peusangan yang menurut warga tak berfungsi sebagai mitigasi konflik antara gajah dengan manusia. Tiga gajah jinak yang ada di CRU DAS Peusangan tidak diberdayakan untuk menghalau gajah liar.

“Sebenarnya disini sudah ada CRU, cuma masalahnya CRU ini tidak dilengkapi dengan sumber daya seperti alat kelengkapan dan operasional yang memadai, sehingga mereka dianggap oleh warga hanya sebagai simbol semata kendati berada di bawah BKSDA Aceh,” pungkas Dade.

CRU DAS Peusangan, ditambahkannya, tidak memberikan andil besar terhadap mitigasi konflik gajah liar dengan manusia di Kecamatan Pintu Rime Gayo. “Itu bisa kita maklumi karena mereka (CRU) tidak dibekali dengan baik dan kurang mendapat perhatian, sehingga seringnya mereka tidak terlibat dalam penggiringan serta mitigasi konflik gajah dengan manusia di Pintu Rime Gayo ini,” ungkapnya.(c51)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved