Petani Keluhkan Drainase Perkebunan Sawit
Petani Aceh Tamiang memanfaatkan kegiatan Farm Field Day (Hari Temu Lapangan Petani) untuk mengeluhkan kondisi drainase
KUALASIMPANG - Petani Aceh Tamiang memanfaatkan kegiatan Farm Field Day (Hari Temu Lapangan Petani) untuk mengeluhkan kondisi drainase milik perusahaan perkebunan sawit. Mereka menyampaikan tiga permasalahan di hadapan Forkopimda atas drainase milik PT Socfindo dan PTPN I yang disebutkan sulit dikontrol.
“Parit dangkal, banyak sampah, sehingga air tidak lancar mengalir,” kata Rahmat, petani di Karangbaru, Selasa (25/12). Menurut dia, Bupati Aceh Tamiang, Mursil pernah berjanji akan memanggil perusahaan pemegang HGU untuk menyelesaikan masalah drainase ini.
“Kami tidak tahu kelanjutannya, karena belum ada perubahan, apalagi kalau hujan air tidak langsung surut, karena drainase tidak berfungsi. Akibatnya tanaman kami mati terendam air,” sambungnya.
Sebelumnya, inspeksi yang dilakukan Camat Karangbaru, Zulfiqar bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ditemui letak drainase di areal tiga perusahaan, yakni PT Socfindo sepanjang 7 km, PTPN I Tanjungseumantoh sepanjang 5 km dan sebagian areal milik PT Pertamina. Ketika diperiksa bulan lalu, drainase dipenuhi sampah.
Selain drainase, masalah penyaluran pupuk serta alat dan mesin pertanian (alsintan) juga disorot petani. Ada dugaan, pupuk bersubsidi hanya dibagikan kepada petani yang tergabung dalam kelompok tani.
Namun dibantah oleh Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang, Safwan. Dia memastikan pemerintah tidak membeda-bedakan petani. “Alokasi pupuk tergantung area, jumlah lahan sawah. Jadi seluruh petani dipastikan menerima pupuk,” kata Safwan ketika dikonfirmasi, Selasa (25/12).
Terkait kekosongan alsintan, dijelaskan Safwan dampak dari pemekaran Kodim. “Aceh Tamiang awalnya tergabung dalam Kodim Aceh Timur. Setelah dibentuk Kodim 0117/Aceh Tamiang, seluruh alsintan kita dibawa ke Aceh Timur,” jelasnya.
Safwan meyakinkan kalau pemerintahan Mursil mendukung program pertanian dan atas dasar itulah farm field day yang jatuh pada 20 Desember dilakukan pertemuan Forkopimda Aceh Tamiang dengan petani. Selain ingin mendengarkan langsung keluhan petani, kegiatan itu juga mencari terobosan untuk meningkatkan produksi petani.
Dijelaskan, salah satu program yang dijalankan yakni demonstrasi farming atau usaha tani. Nantinya para petani di lapangan akan didamping penyuluh pertanian melalui pertemuan yang terstruktur. “Bupati sangat komit untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani lebih baik, termasuk masalah drainase akan diselesaikan,” ucapnya.(mad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hutan-ekosistem-leuser_20180129_151257.jpg)