Opini

Siaga Bencana ala ‘Indatu’

ACEH, 26 Desember 2004. Tak lama, jika Allah Ta’ala Berkehendak, sesuatu yang dibangun oleh manusia dalam sekian kurun waktu, bisa hancur

Siaga Bencana ala ‘Indatu’
Kolase/Kompas.com
Gempa tsunami aceh dan palu 

Melalui pembelajaran dalam keluarga, misalnya, baik melalui dongeng, membaca buku, berdiskusi (sesuai usia anak), kita perlu mengajak mereka mengenal kondisi tempat tinggalnya. Kita dapat belajar bersama, mengindentifikasi berbagai bencana yang mungkin terjadi di gampong masing-masing. Setiap gampong mungkin memiliki kerentanan dan kerawanan yang berbeda, tergantung kondisi alamnya, sehingga berkemungkinan menghadapi bencana yang berbeda-beda.

Kedua, tahapan saat bencana terjadi. Kesiapan dan kesiagaan menghadapi bencana adalah sebuah sikap yang perlu dibentuk dan dilatih. Tak bisa hanya “sekadar tahu”. Tak bisa hanya “sekadar hafal” proses evakuasi.

Akhir 2017, penulis berkesempatan menghadiri sebuah acara Pangkor International Development Dialogue, yang digelar di sebuah hotel di Ipoh, Negara Bagian Perak, Malaysia. Sebelum acara pembukaan berlangsung, Kepala Kepolisian dan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran tampil di atas panggung, menjelaskan tentang prosedur keamanan dan bagaimana proses evakuasi akan dilakukan jika terjadi gempa atau kebakaran.

Hal itu tentu sangat diperlukan, mengingat acara berlangsung di lantai 2 gedung hotel tersebut. Pernahkan kita memikirkan hal ini? Penulis belum pernah mengikuti satu seminar pun di Banda Aceh, yang mempraktikkan prosedur ini dalam protokoler acaranya. Mungkin dianggap “tahu sama tahu”?

Padahal tidak selamanya begitu. Karena terkadang banyak hal-hal penting yang absen dari berbagai standar operasional keamanan akan bencana di gampong kita. Oleh karena itu, sebagai masyarakat “peduli bencana”, kita perlu membangun ketangguhan keluarga, menanamkan “gerakan siap-siaga menghadapi bencana”. Kelompok yang paling rentan yang perlu mendapat perhatian kita semua adalah anak usia 5-9 tahun.

Dan, ketiga, tahapan pascabencana. Apa yang harus kita lakukan jika terpisah saat proses evakuasi? Sudahkah kita mengajak anak-anak membicarakan hal ini? Karena biasanya, kepanikan lebih sering memenangkan akal sehat kita. Inilah yang sudah terjadi beberapa kali pascagempa di Banda Aceh, terlebih jika ada isu akan terjadi tsunami. Kondisi lalu lintas seketika menjadi rawan kecelakaan. Kemacetan, saling mendahului, panik, tentu membuat proses evakuasi malah berbahaya, karena kita memang tidak siap dan terlatih untuk melakukannya dengan tertib dan saling percaya.

Apakah keadaan akan terus berulang? Keputusannya ada di tangan kita. Apakah kita memutuskan untuk bersama mewujudkan masyarakat tangguh bencana? Jika kita sepakat, mari mulai dari keluarga kita, gampong kita, dengan memanfaatkan berbagai ajaran kebijaksanaan warisan indatu. Menggenapkan setiap ikhtiar, teriring Al-Fatihah, untuk para syuhada tsunami 2004.

Dian Rubianty, SE, Ak., MPA., Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: dian.rubianty@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved