Tamiang Miliki Kebun Plasma

Tiga perusahaan perkebunan di Aceh Tamiang sudah siap memberikan kebun plasma kepada para petani

SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Ratusan petani plasma turun ke lokasi areal Izin Usaha Perkebunan (IUP) PT Dua Perkasa Lestari (DPL) di kawasan Desa Rukoen Damee (Genang Jaya), Kecamatan Babahrot, Kabupaten Abdya, Senin (26/2/2018). 

* Pemkab Sosialisasikan ke Petani

KUALASIMPANG - Tiga perusahaan perkebunan di Aceh Tamiang sudah siap memberikan kebun plasma kepada para petani. Pemkab Aceh Tamiang sudah mulai mensosialisasikan program kebun plasma itu kepada petani, seperti di Kecamatan Tamiang Hulu pada Jumat (21/12) lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Tamiang (Kadistanbun), Safwan, Kamis (27/12) menjelaskan program plasma ini merupakan kebijakan Bupati Mursil untuk menghilangkan kesenjangan antara petani karet dan sawit. Dia menjelaskan

petani sawit dibantu dalam melaksanakan replanting (peremajaan tanaman), tetapi tidak berlaku bagi petani karet.

“Sejak awal, perhatian bupati terhadap sektor pertanian tetap tinggi, makanya begitu tahu tidak ada bantuan terhadap petani karet, langsung mencari terobosan,” kata Safwan. Dijelaskan, program plasma ini berbeda dengan replanting sawit.

Dikatakan, bantuan pada program replanting berupa tanaman sawit diganti dengan sawit, sementara pada program plasma, petani karet bisa mengganti dengan tanaman sawit. “Kita tahu sekarang ini harga karet anjlok, makanya kami menawarkan, kalau ada mau yang mengganti karet dengan sawit, dipersilakan,” lanjut Safwan.

Safwan mengaku sudah mensosialisasikan program plasma ini kepada sejumlah petani, salah satunya kelompok petani di Kecamatan Tamiang Hulu pada Jumat (21/12) lalu. Di hadapan para petani, dia menjabarkan program plasma ini sebenarnya sudah didukung UU Nomor 39/2014 tentang Perkebunan, serta Permentan Nomor 98/2013 tentang Pedoman Usaha Perkebunan.

Disebutkan, perusahaan perkebunan diwajibkan mengeluarkan 20 persen lahannya untuk dikelola petani dan Aceh sendiri mendukung program ini melalui Qanun Aceh Nomor 7/2017 dan Qanun Aceh Tamiang 10/2013. “Saya sudah mengajukan Perbup untuk menyusun teknisnya dan sudah saya ajukan September 2018 lalu melalui Kabag Hukum,” ujar Safwan.

Dia menjelaskan luas perkebunan sawit di Aceh Tamiang sebanyak 44 ribu hektare dari 34 pemegang izin perusahaan perkebunan. Namun, baru tiga perusahaan yang menyatakan dukungan program plasma secara tertulis, yakni PT Patisari, PT Rapala dan PT Padang Palma Permai.

“Kondisi petani karet saat ini memprihatinkan dan melalui program plasma ini, perusahaan perkebunan wajib mengeluarkan 20 persen lahannya untuk dikelola petani,” kata Kabid Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Imran Angkat.

Petani karet sendiri ketika ditemui di Kampung Perkebunan, Kecamatan Tamiang Hulu menyambut antusias program ini. Mereka yang sudah terlanjur memotong tanaman karet, karena beranggapan bisa diganti sawit pada program replanting.

“Bisa dibilang ini yang kami harapkan, karena sudah banyak yang salah paham. Kami kira replanting kemarin juga termasuk karet, rupanya hanya sawit,” kata seorang petani.(mad)

program pemkab tamiang
* Kebun plasma dari perusahaan
* 3 Dari 34 perusahaan sudah setuju
* PT Patisari, PT Rapala dan,
* PT Padang Palma Permai
* 20 Persen dari lahan perkebunan
* Jadi kebun plasma masyarakat
* Tanaman karet diganti sawit
* Dikelola oleh kelompok tani

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved