Fraksi PA Sorot Pelayanan RSUZA

Fraksi Partai Aceh (PA) di DPRA menyorot pelayanan Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang dinilai masih belum maksimal

Fraksi PA Sorot  Pelayanan RSUZA
RSUZA 

BANDA ACEH - Fraksi Partai Aceh (PA) di DPRA menyorot pelayanan Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang dinilai masih belum maksimal, karena banyaknya keluhan yang diterima pihaknya dari keluarga pasien terkait pelayanan medis di rumah sakit rujukan tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua Fraksi PA, Iskandar Usman Al-Farlaky sebagai pendapat akhir Fraksi PA dalam rapat paripurna 3 masa persidangan IV DPRA, Jumat (28/12). Di depan anggota DPRA lainnya dan pihak eksekutif, Iskandar mengatakan, selama ini dirinya sering menerima laporan terkait.

“Berdasarkan hasil pantauan kami masih banyak keluhan yang disampaikan masyarakat terkait pelayanan para medis di rumah sakit rujukan tersebut. Baik di level perawat maupun dokter yang menangani pasien,” kata Iskandar.

Menurutnya, masyarakat mengeluh, karena banyak para medis tidak menunjukkan attitude sebagai pelayan masyarakat. Kerap sekali tidak adanya informasi yang didapat terkait rekam medis keluarga. “Begitu juga halnya jika ada warga yang dirawat, namun sering diabaikan pelayanannya. Kecuali setelah diberitahukan kepada pihak direktur atau manajemen lain baru si pasien ditangani,” kata mantan aktivis mahasiswa ini.

Dia mencontohkan, seperti yang dialami almarhum M Thaib, pasien rujukan dari Aceh Timur, beberapa waktu lalu. Menurut Iskandar, almarhum masuk ke RSUZA hari Jumat (21/12) pagi. Pasien ditempatkan di IGD selama tiga hari dan menurut pengakuan keluarga tidak mendapat penanganan yang berarti.

Setelah dilapor ke Direktur RSUZA, baru para medis sibuk menangani pasien dan diberikan kamar titipan, dan selanjutnya ditempatkan di ruang Aqsa II. Selama perawatan di ruangan, masih menurut pengakuan keluarga pasien kepada Iskandar, pasien juga tidak mendapatkan terapi maksimal.

Saat ditanyakan penyakit apa yang diderita pasien, pihak medis tidak menjelaskannya. Bahkan, untuk periksa laboratorium diminta uang Rp 350 ribu, dengan alasan harus periksa laboratorium di Prodia. Padahal keluarga sangat menanti tindakan medis karena pasien terus kesakitan dengan kondisi perut membesar.

“Namun kemarin, hari Kamis (27/12) pukul 09.00 WIB, pasien itu dilaporkan meninggal dunia. Tentu kondisi seperti ini sangat banyak juga dialami oleh keluarga pasien lain dari seluruh Aceh, apalagi mereka datang dari kampung-kampung dan tidak berani bertanya atau takut saat dihardik paramedis,” ujar Iskandar.

Menurutnya, fakta tersebut tidak bisa ditolerir sama sekali, mengabaikan pasien sama dengan membunuh mereka. “Hari ini keluarga orang besok bisa jadi keluarga kita. Kami minta agar kondisi ini diperbaiki. Jika tidak becus melayani masyarakat lebih baik dipecat saja,” pungkas Iskandar.(dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved