BNPB: Skenario Beda dengan Kenyataan

SEBELUM seismolog di University of Southampton, Stephen Hicks menyarankan Indonesia lebih banyak melakukan penelitian

BNPB: Skenario Beda  dengan Kenyataan
KALAK BPBA, T Ahmad Dadek didampingi Kasubdit Peran Organisasi Relawan BNPB, Wartono (baju batik) dan Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin (kanan) memberikan masukan pada sosialisasi persiapan regulasi relawan oleh BNPB di Aula BPBA di Banda Aceh, Jumat (13/7). FOTO IST 

Akan tetapi, ada pula yang sudah memiliki perhitungan dan melakukan tindakan pencegahan bencana, mereka memiliki risiko terkena dampak yang kecil.

Dalam keadaan seperti ini, Wisnu mengatakan masyarakat harus hidup harmoni dengan risiko (living harmony with risk). Hal itu menurutnya bisa dilakukan dengan mengenali tanda-tandanya dan memasang early warning (peringatan dini).

Sehinggga jika bencana terjadi, masyarakat bisa menghindar dan menyelamatkan diri. “Karena itu, tidak usah takut memahami hidup dengan risiko bencana. Yang penting, infrastruktur kebencanaan itu disiapkan. Misalnya, jalur evakuasi diperbaiki, sehingga warga bisa mengevakuasi diri dengan cepat,” lanjutnya.

Selanjutnya, Wisnu mengatakan menyiapkan jejaring komunikasi agar informasi adanya bahaya bisa disampaikan dengan segera. Selain itu, menurutnya, warga setempat juga harus berlatih untuk menerima risiko tersebut. Sehingga, saat bencana terjadi, mereka bisa bergeser ke tempat yang aman.

Setelah memahami tata kelola dalam risiko, kata dia, harus ada kemauan untuk investasi. Misalnya, dengan membangun jalur evakuasi, memasang rambu-rambu dan sistem peringatan dini. Ia menekankan agar tata kelola pengurangan risiko bencana harus dijadikan sebagai investasi pembangunan.

“Bukan hanya sebagai biaya yang hilang begitu saja. Tetapi itu adalah investasi pembangunan. Karena dengan melaksanakan manajemen risiko tersebut, itu menjadi urusan pemerintah,” ujarnya.

Di samping itu, ia mengatakan diperlukan adanya persiapan untuk respons lebih baik. Dalam hal ini, perlu dilakukan pelatihan, penyiapan rencana, pembangunan posko, dan lainnya.(nas/republika)

upaya mengurangi
risiko bencana

* Upaya mitigasi, misalnya membangun tanggul, bendung, menambah early warning (peringatan dini), dan lainnya
* Meninggalkan atau menghindari tempat rawan bencana
* Perlu adanya asuransi sehingga jika bencana terjadi akan ditanggung oleh asuransi
* Tidak perlu takut memahami hidup dengan risiko bencana. Yang penting, infrastruktur kebencanaan itu disiapkan, misalnya jalur evakuasi diperbaiki sehingga warga bisa mengevakuasi diri dengan cepat
* Menyiapkan jejaring komunikasi agar informasi adanya bahaya bisa disampaikan dengan segera
* Setelah memahami tata kelola dalam risiko, harus ada kemauan untuk investasi, misalnya membangun jalur evakuasi, memasang rambu-rambu dan sistem peringatan dini yang merupakan investasi pembangunan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved