Polisi Sita Pupuk Subsidi

Jajaran Reskrim Polres Pidie berhasil membongkar penimbunan pupuk subsidi, seusai kelangkaan pupuk

Polisi Sita Pupuk Subsidi
SERAMBI/IDRIS ISMAIL
AMANKAN :Dua pekerja mengangkut pupuk sitaan dari pelaku TJ (63) warga Gampong Riweuk, Kecamatan Sakti, Pidie, untuk diamankan di Polres Pidie sebagai Barang Bukti (BB), Rabu (3/1/2019). SERAMBI/IDRIS ISMAIL 

* Ditimbun di Gudang Rumah Warga Sakti

SIGLI - Jajaran Reskrim Polres Pidie berhasil membongkar penimbunan pupuk subsidi, seusai kelangkaan pupuk terus terjadi di wilayah Pidie dan juga tetanggannya, Pidie Jaya. Sebanyak 5 ton pupuk dalam 107 karung disita dari pemiliknya, berinisial TJ (67) di Gampong Riweuk, Kecamatan Sakti, Pidie, Rabu (2/1) siang, sekira pukul 15.30 WIB.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK melalui Kasat Reskrim AKP Mahliadi ST MM mengatakan penyitaan pupuk bersubsidi ini berdasarkan laporan masyarakat. “Setelah dilakukan pengecekan, usaha milik TJ tidak mengontongi izin usaha secara sah,” sebut Mahliadi.

Dari hasil penyidikan dan pemantauan yang dilakukan oleh tim penyidik sejak awal Desember 2018 atau saat kelangkaan pupuk, ternyata TJ melakukan penimbunan pupuk. Mahliadi menyatakan pupuk ditimbun di gudang belakang rumahnya dan kios pupuk di depan rumahnya juga tanpa plat nama.

Dikatakan, pelaku menjual pupuk kepada petani dengan cara utang terlebih dahulu dan dibayar kembali seusai panen atau bisa dikatakan sebagai tengkulak. Disebutkian, pelaku dijerat debgan pasal 21 Jo pasal 30 ayat (3) Permendag RI No 15/M/DAG/PER/4/2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian.

Kemudian, Pasal 24 Jo ayat (1) jo pasal 29 ayat (1) Jo pasal 106 jo pasal 107 UU RI No 7 tahun 2014 tentang perdagangan dan Jo pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Presiden No 15 RI 2011 tentang perubahan peraturan Presiden No 77 tahun 2005 tentang penetapan pupuk bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan.

Selanjutnya Jo pasal 1 Sub 3E Jo pasal 6 ayat (1) Hruf B UU RI No 7 tahun 1955. Tentang tindak pidanan ekonomi. “Dengan demikian, pelaku diancam maksimal di atas enam tahun kurungan penjara,” katanya.

Dilansir sebelumnya, kelangkaan pupuk bersubsidi kembali melanda Kabupaten Pidie, khususnya Kecamatan Kembang Tanjong dalam sepekan terakhir ini. Kondisi itu terus terjadi setiap tahun, saat petani sangat membutuhkan, seperti jenis NPK Phohska dan SP-36 untuk tanaman padi berumur 20 hari setelah tanam (HST).

Imum Mukim Gampong Asan, A Karim Hasan, kepada Serambi, Jumat (23/11/2018) mengatakan area sawah seluas 1.100 hektare yang tersebar di Gampong Asan, Reureng dan Asan Kumbang sudah ditanami padi dengan umur 20 hari. Dia mengatakan petani sangat membutuhkan NPK Phonksa dan SP-36 untuk menyuburkan tanaman padi.

Dia menyatakan kelangkaan pupuk terjadi saat petani hendak membeli jatah pupuk di tingkat pedagang, tetapi tidak ada. Dia mengaku tanaman padi tidak akan tumbuh subur, jika tidak ada kedua jenis pupuk tersebut, sehingga pemerintah harus mempercepat menyalurkan pupuk di Kembang Tanjong.

“Setiap tahun, petani di Kembang Tanjong dihadapkan dengan kelangkaan pupuk NPK Phonska saat memerlukannya,” ujarnya. Dia meminta Pemkab Pidie untuk tetap mengawal distribusi pupuk, termasuk harga tidak dinaikkan, karena kondisi petani di pedalaman masih memprihatinkan.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Ir Syarkawi MSi, yang dihubungi Serambi mengatakan pupuk NPK Phonska dan SP-36 jatah untuk Pidie masih tersisa untuk Oktober 2018. Disebutkan, jatah NPK Phonska sekitar 1.324 ton dan SP-36 sekitar 501 ton.

Syarkawi menjelaskan untuk jatah Kecamatan Kembang Tanjong sebanyak 235 ton dan yang telah terealisasi sekitar 165 ton, sehingga masih ada sisa 70 ton lagi. “Kami telah melakukan koordinasi dengan distributor, bahwa pupuk jenis NPK Phonska telah satu minggu disalurkan ke Kembang Tanjong sebanyak 40 ton,” katanya.(c43/naz)

kronologi penangkapan
* Polisi sudah selidiki sejak Desember 2018
* Seusai adanya laporan dari masyarakat
* Bertepatan dengan kelangkaan pupuk terjadi
* Pelaku ditangkap karena tak miliki izin usaha
* Jual pupuk dengan utang, bayar usai panen
* Pelaku juga dianggap sebagai tengkulak
* Terancam enam tahun kurungan penjara

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved