Pakai Dana Swadaya, "Komunitas Kami Peduli Bireuen" Bedah Rumah Warga Miskin di Juli Tambo Tanjong

Bedah rumah kaum miskin atau dhuafa itu, merupakan bentuk kepedulian komunitas Kami Peduli Bireuen dalam bidang kemanusiaan.

Pakai Dana Swadaya,
SERAMBINEWS.COM/FERIZAL HASAN
Komunitas 'Kami Peduli Bireuen', membedah rumah Hawilah A Gani (75), warga miskin di Dusun Meunasah Tanjong, Desa Juli Tambo Tanjong, Kecamatan Juli, Bireuen, Jumat (4/1/2019). 

Laporan Ferizal Hasan l Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Komunitas 'Kami Peduli Bireuen' membedah rumah Hawilah A Gani (75), janda tua miskin di Dusun Meunasah Tanjong, Desa Juli Tambo Tanjong, Kecamatan Juli, Bireuen, Jumat (4/1/2019).

Pantauan Serambinews.com, belasan relawan Kami Peduli Bireuen yang terdiri dari anggota Polres Bireuen, TNI, wartawan, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) serta masyarakat setempat, awalnya membersihkan rumah Nek Hawilah.

Hadir juga Kepala Sekretariat Baitul Mal Bireuen, Saiful Hamdanur. Para relawan, setelah membersihkan rumah dan pekarangannya, juga mencat putih rumah papan dan tepah bambu berukuran 4x3 meter itu.

Mereka secara swadaya mengumpulkan uang membeli seng dan keperluan lainnya. Para relawan dibantu masyarakat setempat, menggantikan atap rumbia yang sudah bocor dengan seng baru.

Koordinator Komunitas 'Kami Peduli Bireuen', Bripka Deni Putra SE MSi, kepada Serambinews.com mengatakan, bedah rumah kaum miskin atau dhuafa itu, merupakan bentuk kepedulian komunitas Kami Peduli Bireuen dalam bidang kemanusiaan.

"Alhamdulillah rumah Nek Glee sapaan akrab Nek Hawilah, sudah bersih dan tidak bocor lagi," ujar Deni.

Tapi rumah Nek Hawilah yang hidup sebatang kara di pinggir bukit di lahan milik Pemkab Bireuen, tepatnya sebelah selatan lapangan sepakbola Glee Bruek itu, belum memiliki Mandi Cuci Kakus (MCK) dan krisis air bersih.

Kepala Dusun Meunasah Tanjong, Syahrizal kepada Serambinews.com menambahkan, Nek Glee (Hawilah) sehari-hari menggunakan air hujan yang ditampung dari atap rumahnya untuk mandi, cuci dan memasak.

Namun saat musim kemarau, Nek Glee yang sakit-sakitan itu, terpaksa mengangkut air bersih dari sumur tua sebelah utara lapangan sepakbola yang berjarak sekitar 300 meter.

Nek Hawilah (Nek Glee) sudah 32 tahun menetap di Desa Juli Tambo Tanjong. Ia aslinya berasal dari Kecamatan Peudada. Nek Glee memiliki tiga orang anak, seorang putra dan dua putri.

"Dua putrinya sudah lama meninggal, sedangkan putranya yang sudah menikah ke Aceh Utara jarang pulang," pungkas Syahrizal.(*)

Baca: Polisi Amankan 11 Sepeda Motor Bodong, Warga yang Merasa Kehilangan Sepmor Bisa Cek ke Polres Galus

Baca: Ibu Muda yang Meninggal Tergantung di Bireuen Baru Sebulan Melahirkan, Suaminya Bekerja di Jakarta

Baca: Bocah Kembar di Gayo Lues Dicabuli Buruh Bangunan asal Medan, Polisi Ungkap Modusnya

Penulis: Ferizal Hasan
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved