Psikolog Sarankan Polisi Tingkatkan Edukasi Tertib Berlalu Lintas

Kepolisian disarankan untuk meningkatkan edukasi kepada pengendara terkait disiplin berlalu lintas di jalan raya

Psikolog Sarankan Polisi Tingkatkan  Edukasi Tertib Berlalu Lintas
SERAMBI/AZHARI
Kabag Ops Polres Sabang, Kompol H Abdul Manaf dan Kasat Lantas, AKP Mujibussalim memperkenalkan rambu-rambu lalulintas kepada anak TK Pertiwi di Polres Sabang, Jumat (1/4).SERAMBI/AZHARI 

BANDA ACEH - Kepolisian disarankan untuk meningkatkan edukasi kepada pengendara terkait disiplin berlalu lintas di jalan raya. Edukasi yang diberikan dapat melalui spanduk, leaflet, traffic light bersuara untuk mengimbau tertib berlalu lintas, atau polisi meupep-pep yang juga bertujuan agar pengendara disiplin dalam berlalu lintas.

Hal ini disampaikan Psikolog, Nurjannah Nitura saat menjadi narasumber tamu by phone dalam talkshow Radio Serambi FM, Kamis (3/1), membahas Salam (Editorial) Harian Serambi Indonesia berjudul ‘Mari Berdisiplin di Jalan Raya’. Hadir sebagai narasumber internal dalam talkshow bertajuk Cakrawala itu adalah Sekretaris Redaksi Serambi Indonesia, Bukhari M Ali yang dipandu host, Dosi Elfian.

Menurut Nurjannah, seseorang yang melakukan pelanggaran lalu lintas kemudian diberi punishment (hukuman) tidak menjamin perilakunya berubah. “Tapi, harus diberi proses edukasi agar pengendara disiplin berlalu lintas. Sehingga perilaku yang tidak disiplin berubah menjadi disiplin. Ini perlu dilakukan oleh kepolisian,” katanya.

Ditambahkan, perilaku manusia di jalan raya merupakan cerminan perilaku manusia secara makro. Menurutnya, beberapa nilai positif itu tercermin saat berada di jalan raya. Misal, ada yang menyerempet orang lain kemudian pelakunya lari. “Kalau dulu setelah menyerempet orang, pelaku bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit, dan tindakan lainnya. Jadi, perilaku bertanggung jawab itu makin lama makin menurun,” ujarnya.

Nurjannah Nitura juga menyampaikan, kepedulian untuk menolong orang lain saat kecelakaan atau musibah lainnya menurun, dan cenderung seperti penonton. “Seperti orang-orang yang kurang hiburan. Saat ada kecelakaan langsung selfie, ini suatu keprihatinan bagi bangsa kita. Kenapa dulu bangsa kita yang suka bergotong royong, dan sekarang kenapa bisa seperti ini?” tanyanya.(una)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved