Heboh Awan Kumulonimbus di Makassar, AirAsia Jatuh, Ternyata Disebutkan di Alquran

Novy Pantaryanto mengatakan, awan berbentuk gelombang tsunami tersebut merupakan awan yang sangat berbahaya.

Heboh Awan Kumulonimbus di Makassar, AirAsia Jatuh, Ternyata Disebutkan di Alquran
(Dok. Istimewa/ Via Kompas.com)
Awan seperti gelombang tsunami terekam di langit Kota Makassar, Selasa (1/1/2019) sore. 

"Area kawasan rute penerbangan berawan dan banyak awan sepanjang rute. Ada awan Cumulonimbus juga dan ada juga awan-awan jenis lainnya," ujar Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan dan Maritim BMKG Syamsul Huda saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Minggu (28/12/2014).

Garuda Indonesia GA-421

Awan Kumulonimbus menjadi penyebab kecelakaan pesawat udara Garuda Indonesia GA-421.

Setelah terjebak di dalam Awan Kumulonimbus, pesawat tersebut mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, 17 Januari 2002.

Abdul Rozaq adalah pilot pesawat tersebut.

Dia mendapat pujian dunia karena bisa melakukan pendaratan darurat di atas Sungai Bengawan Solo, dengan semua penumpang selamat. D

alam insiden tersebut, satu pramugari meninggal di tengah proses mengeluarkan penumpang dari pesawat, setelah melewati Awan Kumulonimbus dan pendaratan darurat.

"Saat itu pesawat saya belum berteknologi secanggih sekarang, terutama untuk weather radar, alat yang bisa memproyeksikan kondisi cuaca di depan pesawat hingga jarak 20 mil sampai 40 mil," tutur Rozaq di kantor Angkasa Pura II di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/12/2014).

Pesawat Garuda Indonesia mendarat di Sungai Bengawan Solo. (ARSIP KOMPAS)

Abdul Rozaq menuturkan, pada waktu itu, dia menerbangkan pesawat Boeing 737 dalam penerbangan dari Mataram ke Yogyakarta.

Ketika pesawat sudah mengarah ke Bandara Adisutjipto di Yogyakarta, ujar dia, pesawat tiba-tiba berhadapan dengan CB yang sangat besar.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved