Gunung Karangateng Erupsi 30 Menit Sekali, Warga Diminta Siaga dari Potensi Lahar dan Banjir Bandang

"Setiap 30-60 menit terjadi erupsi yang ditandai dengan gemuruh atau embusan dan asap serta lava pijar," jelasnya.

Gunung Karangateng Erupsi 30 Menit Sekali, Warga Diminta Siaga dari Potensi Lahar dan Banjir Bandang
PVMBG VIA KOMPAS.COM
Kepulan asap dari kawah Gunung Karangetang Desember 2018 lalu. 

SERAMBINEWS.COM -  Gunung Api Karangateng di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara mengeluarkan gemuruh, asap, dan lava pijar setiap 30-60 menit.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Sitaro, Bob Wuaten. Menurutnya, status Gunung Karangetang hingga saat ini berstatus level III atau siaga.

"Itu sejak tanggal 20 Desember 2018, status Gunung Api Karangetang menjadi siaga atau level III," kata Wuaten seperti dikutip Serambinews.com dari Kompas.com, Senin (7/1/2019).

"Setiap 30-60 menit terjadi erupsi yang ditandai dengan gemuruh atau embusan dan asap serta lava pijar," jelasnya.

Baca: Kabar Terbaru Gunung Berapi Indonesia: Anak Krakatau Berstatus Siaga, Gunung Sinabung Level IV Awas

Baca: Baru Pertama Kali Terjadi, Ini 5 Hal yang Membuat Erupsi Gunung Anak Krakatau Unik dan Langka

Baca: BMKG Khawatirkan Adanya Tsunami Susulan Setelah Temukan 2 Retakan Baru di Tubuh Gunung Anak Krakatau

Sementara itu, Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang mencatat secara visual, gunung kabut 0-I hingga kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati.

"Kegempaan guguran terjadi 11 kali, amplitudo 5-10 milimeter, durasi 45-60 detik. Sedangkan, embusan 12 kali, amplitudo 10-32 milimeter, durasi 35-60 detik. Terasa 5 kali, amplitudo 50-52 milimeter, S-P 15 detik, durasi 375-450 detik, skala I-III MMI," kata anggota Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang Didi Wahyudi P Bina, dalam keterangan tertulis, Senin (7/1/2019) pukul 06.50 Wita.

Lanjut dia, untuk tektonik jauh terjadi 18 kali, amplitudo 10-52 milimeter, S-P 15 detik, durasi 75-450 detik. "Tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-2 milimeter (dominan 0,5 mm)," tambah Didi.

Baca: 5 Fakta Nafis Naam Korban Tsunami Selat Sunda, Harus Bayar Biaya Perawatan Rp 17,2 Juta

Baca: 8 Fakta Raja Malaysia Sultan Muhammad V yang Turun Takhta, Dikenal Dekat dengan Rakyat

Baca: Ayo Dukung! Putra Gayo Fauzul Abdi Siap Bertarung di Liga Dangdut Indonesia 2

Dia memberi rekomendasi kepada masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dan pengunjung atau wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di radius 2,5 kilometer dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah selatan) ke arah utara-timur-selatan-barat dan radius 3 kilometer ke arah barat laut.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang, kata Didi, diminta meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

Baca: Mengungkap Tabir Bisnis Prostitusi Online, Salah Satunya Menggunakan Twitter

Baca: Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 2,9 M, Pemerintah Janji Bebaskan WNI yang Disandera

Baca: Thailand Kalah Telak dari India di Piala Asia 2019, FAT Pecat Pelatih Milovan Rajevac

Masyarakat disekitar Gunung Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Erupsi, Gemuruh, serta Lava Pijar Terjadi Setiap 30-60 Menit di Gunung Karangetang"

Editor: Safriadi Syahbuddin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved