Filipina Tolak Layanan Gojek, Ambisi Menguasai Asia Tenggara pun Terhambat

Filipina menolak aplikasi layanan transportasi Go-Jek Indonesia untuk meluncurkan layanannya karena terkendala masalah kepemilikan asing.

Filipina Tolak Layanan Gojek, Ambisi Menguasai Asia Tenggara pun Terhambat
Seorang pengemudi Go-Jek menunggu aksi unjuk rasa di depan kantor manajemen PT Go-Jek, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (3/10/2016). Mereka menuntut PT Go-Jek Indonesia untuk menghapus performa, membuat payung hukum yang independen dari keluhan pengemudi, transparansi dalam setiap kebijakan, menstabilkan sistem menjadi lebih baik dan memberikan kebijakan tarif yang rasional untuk semua pengemudi se-Indonesia.(KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG) 

SERAMBINEWS.COM - Otoritas transportasi Filipina menolak aplikasi layanan transportasi Go-Jek Indonesia untuk meluncurkan layanannya karena terkendala masalah kepemilikan asing.

Sebagaimana dilansir dari Channel News Asia, keputusan tersebut menghambat ambisi Go-Jek untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar di Asia Tenggara, yang saat ini didominasi oleh Grab sebagai pesaing utamanya yang berbasis di Singapura.

Dewan Waralaba dan Regulasi Transportasi Darat (LTFRB) Filipina, Martin Delgra menolak permohonan anak perusahaan Go-Jek untuk menjadi layanan transportasi antar-jemput terbaru di Filipina.

Go-Jek sedianya masuk melalui anak usahanya yakni Velox Technology Philipines Inc.

Namun, perusahaan tersebut menurut Delgra, tidak memenuhi persyaratan kewarganegaraan dan aplikasi yang tidak diverifikasi sesuai aturan yang berlaku.

Baca: Perjuangan Hotman Paris Saat Muda, Pernah Kerja di Kantor Ayah Pendiri Gojek

Baca: Terekam Kamera, Para Driver Ojek Online Berusaha Selamatkan Ibu Hamil yang Hendak Bunuh Diri

Sebagai informasi, konstitusi Filipina membatasi kepemilikan asing hingga 40 persen untuk industri tertentu.

“Jika mereka ingin mengajukan banding, itu adalah pilihan mereka," kata Delgra.

Dia juga menegaskan saat ini Grab tetap menjadi aplikasi transportasi antar jemput terbesar yang ada di Filipina.

Velox sebagai anak usaha Go-Jek, menurut Delgra, sepenuhnya dimiliki oleh Go-Jek. Sementara Grab, melalui unit lokalnya MyTaxi.PH Inc, mematuhi batasan kepemilikan asing.

Seorang juru bicara Go-Jek yang tidak disebutkan namanya mengatakan, pihaknya terus terlibat secara positif dengan LTFRB dan lembaga pemerintah lainnya.

“Karena kami berusaha untuk memberikan solusi transportasi yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat Filipina,” jelas dia.

Baca: Driver Ojol Dapat Penumpang Artis Cantik, Unggah Ini dan Ungkap Hal yang Jadi Perbincangan Netizen

Baca: Penumpang Kaget Dengar Curhat Driver Ojol yang Ternyata Lulusan Jerman, Netizen Ikut Sedih

Go-Jek mulai beroperasi pada 2011 di Jakarta dan telah berevolusi dari layanan transportasi menjadi aplikasi satu atap.

Pelanggannya dapat melakukan pembayaran online dan memesan semua layanan mulai dari makanan, bahan makanan, hingga layanan pijat.

Tahun lalu, Go-Jek mengatakan akan menginvestasikan USD500 juta untuk memasuki pasar Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina, setelah Uber Technologies Inc mencapai kesepakatan untuk menjual operasinya di Asia Tenggara ke Grab.

Perusahaan Indonesia tersebut memulai peluncuran uji coba di beberapa bagian Singapura pada November dan meningkatkan investasi miliaran dolar secara agresif karena lebih dari 640 juta konsumen di Asia Tenggara menggunakan ponsel pintar untuk berbelanja, bepergian, dan melakukan pembayaran.(Anadolu Agency)

Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved