PDAM Sigli Dapat Subsidi

Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Mon Krueng Baro Sigli mendapat subsidi dari Pemkab Pidie sebesar Rp 150 juta

PDAM Sigli Dapat Subsidi
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
Pipa PDAM Jembatan Krueng Tingkeum 

* Untuk Perawatan Mesin dan Listrik

SIGLI- Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Mon Krueng Baro Sigli mendapat subsidi dari Pemkab Pidie sebesar Rp 150 juta, bersumber dari APBK 2018. Dana itu digunakan untuk perawatan dan perbaikan mesin, serya tagihan rekening listrik untuk mengoperasional peralatan dan juga kantor, tetapi tidak termasuk gaji karyawan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pidie, Muhammad Ridha SSos MSi kepada Serambi, Rabu (9/1) mengatakan subsidi untuk operasional PDAM 2018 naik Rp 50 juta dari Rp 100 juta pada 2017 lalu. Disebutkan, subsidi itu merupakan dana rutin sebagai bantuan langsung yang ditempatkan pada Bagian Keuangan dan Kekayaan Daerah Pidie.

Dia menjelaskan, subsidi yang dialokasikan tahun 2019 ini untuk meningkatkan kinerja perusahaan daerah itu, sehingga dapat memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. “PDAM belum mapan, sehingga harus mendapat subsidi untuk perbaikan peralatan mesin dan lainnya,” jelasnya.

Sedangkan Direktur PDAM Tirta Mon Krueng Baro Sigli, Drs Ridwan menyebutkan untuk 2018 pemkab mensubsidi PDAM Sigli sebesar Rp 150 juta. Subsidi tersebut antara lain untuk perbaikan mesin serta biaya listrik, dan bukan untuk membayar gaji karyawan, katanya.

Ridwan menyatakan untuk 2019, jumlah subsidi yang luncurkan PDAM belum diketahui besarannya. Dia mengungkapkan untuk biaya produksi air lebih tinggi dan tidak seimbang dengan tagihan yang dibayarkan pelanggan yang rata-rata masih Rp 3.000 per kubik, karena jika disesuaikan kembali maka pelanggan akan keberatan.

Dikatakan, pelayanan yang diberikan pihaknya kepada pelanggan masih dalam bentuk subsidi, karena iuran yang dibayar pelanggan masih sangat rendah. “Belum lagi hasil produksi air itu terbuang karena pipa bocor dan dicuri, karena PDAM Sigli yang menanggung biaya produksinya,” katanya.

Dia menjelaskan jumlah pelanggan sebanyak 8.000 lebih, sementara untuk membayar Pendapatan Asli Daerah (PAD), harus memiliki pelanggan 15.000 ke atas. Ridwan menyatakan jumlah pelanggan terus bertambah setiap tahun, karena jaringan pipa PDAM sudah terpasang hampir di 23 kecamatan, tetapi masih banyak warga yang belum menjadi pelanggan, seperti di Keumala.

“Pelanggan baru yang menjadi target merupakan warga yang bermukim di kawasan pesisir yang sulit mencari air bersih, seperti Kecamatan Batee, dimana kami akan menghidupkan kembali WTP Teupin Raya, yang kini dalan proses perbaikan yang dilakukan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Pidie. Mudah-mudahan 2019 bisa beroperasi,” ujarnya.

Disebutkan, tunggakan maupun putusan meteran pelanggan masih rendah, karena aktif menjemput ke pelanggan yang sudah menunggak dari empat sampai lima bulan. “Kami telah mempersiapkan tiga mobil untuk menjemput tagihan tunggakan dan alhamdulillah, tidak ada lagi yang menunggak pembayaran,” jelasnya.

Menurutnya, suplai air dari PDAM Sigli telah maksimal, bersumber dari tiga WTP yakni Keumala, Garot dan Jabal Ghafur. Namun, suplai air paling besar pada WTP Keumala mencapai 80 liter per detik, sehingga macetnya suplai air di PDAM Sigli hampir tidak terjadi lagi, kecuali terjadi kebocoran pipa.

“Seperti dalam beberapa hari terakhir ini, kebocoran pipa ditemukan di dua titik di kawasan Keumala, sehingga pelanggan yang disuplai pipa dari Keumala terhenti. Kita telah menurunkan petugas untuk memperbaikinya, sehingga suplai akan segera normal kembali,” pungkasnya.

Anggota DPRK Pidie, Teuku Saifullah TS, Rabu (9/1) menyebutkan subsidi terhadap PDAM telah membebankan daerah setiap tahun, karena belum mampu memberikan konstribusi ke daerah, khususnya PAD. Dia menilai pengelolaan PDAM diserahkan kepada swasta seperti PDAM Kota Banda Aceh, agar konstribusi untuk menambah pemasukan PAD dapat diperoleh.

“Saya rasa, jika dikelola swasta, maka hasil yang diperoleh PDAM akan terukur. Tapi, selama ini pengelolaan kurang transparan, sehingga setiap tahun harus mendapat subsidi,” ujarnya. Dia menyebutkan, pelayanan PDAM belum optimal dalam menyuplai air kepada pelanggan.

Dia mencontohkan, dirinya kerap menerima keluhan air dari PDAM Sigli kotor atau suplai air macet di Kecamatan Kota Sigli. Kemudian, ada kawasan yang belum ada jaringan pipa PDAM, seperti kompleks perumahan Gajah Aye, Kecamatan Kota Sigli. “ PDAM Sigli seharusnya memasang pipa sambungan rumah,” demikian T Saifullah.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved