Lebih Logis Gunakan Maskapai Asing

KETUA Lembaga Riset Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja ikut menanggapi fenomena tingginya harga tiket penerbangan domestik

Lebih Logis Gunakan Maskapai Asing
IST
ZAINAL ABIDIN SUARJA, Ketua Lembaga Riset Natural Aceh

KETUA Lembaga Riset Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja ikut menanggapi fenomena tingginya harga tiket penerbangan domestik yang memicu protes masyarakat, terutama di Aceh.

“Ini bukan fenomena baru tetapi sudah dirasakan sejak dua tahun lalu. Namun sejak tiga bulan terakhir ini harganya luar biasa gila-gilaan,” tulis Zainal dalam postingannya ke grup WhatsApp Forum PRB Aceh, Minggu (13/1) malam atau beberapa saat setelah pengumuman penurunan harga tiket pesawat rute domestik oleh sejumlah maskapai yang bernaung dalam wadah INACA.

Zainal Abidin Suarja yang juga Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh menulis pihaknya sering mengirimkan peneliti ke luar negeri, seperti Malaysia, Jepang, Korea, Perancis, Thailand, bahkan Austria.

“Dari dulu masih lebih logis menggunakan maskapai asing baik itu yang LCC (low-cost carrier) maupun FSA (full service airline) untuk penerbangan jauh dibandingkan harus menggunakan maskapai dalam negeri,” tandasnya.

Tanpa maksud membanding-bandingkan antara maskapai luar dan dalam negeri, namun menurut Zainal siapa saja yang pernah menggunakan dan terbang dengan berbagai maskapai mengetahui jelas perbedaan ini.

Zainal memambahkan, walaupun maskapai luar negeri jauh lebih murah membebankan tarifnya ke penumpang, toh pelayanan dan manajemennya tetap jauh lebih tinggi daripada maskapai lokal. Bahkan, AirAsia yang pada 2017 hanya mempunyai dua penerbangan dalam sehari di Aceh telah menggelontorkan dana CSR sebesar Rp 310,810,000 pada tahun tersebut untuk Aceh melalui AirAsia Foundation. “Ini sangat berbeda dengan maskapai domestik yang jumlah penerbangannya lebih banyak, jangankan CSR, malah yang dipraktikkan adalah harga tiket yang mencekik,” tandas Zainal.

Dalam penilaian Natural Aceh, INACA pun sudah seperti kartel dunia perhubungan udara, bereaksi ketika isu ini telah melebar di masyarakat. Harusnya, lanjut Zainal, saat ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU sudah bisa turun tangan untuk memeriksa ini. “Jika kenaikan ini disebabkan oleh stakeholders atau operasional, ya jelaskan secara gamblang ke publik apa parameternya. Kenapa setelah diprotes paramater itu bisa diturunkan?,” ujarnya mempertanyakan.

Zainal juga menyoroti kebijakan yang hanya menurunkan harga tiket penumpang sedangkan biaya kargo yang juga melejit 100-200 persen tidak juga sekaligus diturunkan. “Apakah ini juga harus menunggu protes dari masyarakat,” tanyanya.

Dia menyerukan maskapai penerbangan harus jujur, biaya tarif tiket yang dibebankan kepada penumpang termasuk atribut pajak, airport tax atau bagasi berbayar itu dipakai untuk apa. Menurutnya, ini menjadi suatu hal yang penting karena masyarakat dapat menilai secara fakta dengan pesawat yang sama dan waktu penerbangan yang sama kenapa harga bisa berbeda antara Indonesia dan negara tetangga.

Sebagai perbandingan, tulis Zainal, saat ini Banda Aceh-Medan Rp 600.000 untuk one way dengan waktu 1 jam, sebelumnya masih dapat Rp 300.000/sekali terbang. Dibandingkan dengan Kuala Lumpur-Penang untuk one way hanya Rp 180.000. “Apa ini bukan ketimpangan harga yang mencolok. Jenis pesawat yang digunakan sama, malah untuk bandara lebih megah dan bagus tapi harga tiket bisa berbeda seperti bumi dan langit,” demikian pernyataan Lembaga Riset Natural Aceh.(nas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved