Myanmar Tunda Kunjungan Kepala UNHCR ke Rakhine, Konflik Rohingya Masih Berlangsung

Myanmar menunda kunjungan Kepala UNCHR ke negara bagian Rakhine, pada Senin (14/1/2019), terkait meletusnya pertempuran dua pekan lalu.

Myanmar Tunda Kunjungan Kepala UNHCR  ke Rakhine, Konflik Rohingya Masih Berlangsung
Reuters via BBC Indonesia
Sebagian besar pengungsi Rohingya menuju Banglades melalui jalur darat, tapi ada sejumlah orang berupaya melintasi sungai dan laut menggunakan perahu reyot. 

SERAMBINEWS.COM - Myanmar menunda kunjungan Kepala UNCHR (Badan PBB urusan pengungsi) ke negara bagian Rakhine, pada Senin (14/1/2019), terkait meletusnya pertempuran antara pasukan keamanan dan gerilyawan.

Pemerintah Negara Bagian Rakhine mengeluarkan pemberitahuan pekan lalu yang menolak organisasi non-pemerintah dan badan-badan PBB untuk mengunjungi daerah pedesaan di lima kota di bagian utara dan tengah Rakhine.

Pertempuran meletus di Rakhine setelah 13 polisi tewas pada 4 Januari 2019 oleh serangan Arakan Army yang berasal dari kelompok Budha di dekat perbatasan dengan Bangladesh.

"Berdasarkan penilaian pihak berwenang Myanmar terhadap situasi keamanan di Rakhine, kunjungan itu ditunda," kata juru bicara UNHCR, Andrej Mahecic.

Sementara menurut para diplomat, Inggris diperkirakan akan mengangkat masalah ini di Dewan Keamanan PBB akhir pekan ini. Karena itu, pihak UNHCR harus memastikan kondisi terkini di Rakhine. Namun batal karena adanya penundaan tersebut.

Baca: Lagi, Pengungsi Rohingya Kabur dari SKB Bireuen

Baca: 20 Warga Rohingya Mendarat di Kuala Idi

Keputusan untuk menunda perjalanan Grandi dan ketidakpastian seputar kunjungan terpisah utusan PBB Christine Schraner Burgener ke Myanmar, memicu kekhawatiran pihak berwenang akan mengulangi sikap mereka terkait krisis pengungsi Rohingya.

"Mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa dan secara khusus tidak ingin hal itu diungkap," kata seorang diplomat Dewan Keamanan mengenai keputusan untuk menunda kunjungan Grandi.

Operasi militer kekerasan Myanmar pada 2017, memaksa lebih dari 720.000 Rohingya menyeberangi perbatasan ke Bangladesh. Menurut laporan, para pengungsi melarikan diri karena adanya pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran.

Baca: Gajah Mulai Beradaptasi Lahir Tanpa Gading Akibat Sering Diburu oleh Manusia

Baca: Ini Jadwal Pertandingan El Clasico Jilid II Antara Real Madrid vs Barcelona

Inggris, Prancis, Amerika Serika,t dan kepala PBB Antonio Guterres menggambarkan operasi itu sebagai pembersihan etnis. Sementara para penyelidik PBB menyerukan para jenderal militer Myanmar untuk diperiksa karena kejahatan perang.

Rohingya di Myanmar ini telah menderita akibat penganiayaan selama beberapa dekade dan tidak diberi hak kewarganegaraan.(Anadolu Agency)

Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved