Salam

Naik Harga Tinggi-tinggi, Turunnya Setengah Hati

Kesepakatan maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA)

Naik Harga Tinggi-tinggi, Turunnya Setengah Hati
THINKSTOCK, Google Maps, pngimage.net
Ilustrasi tiket penerbangan 

Kesepakatan maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menurunkan harga jual tiket pesawat rute domestik, ternyata tak mendapat sambutan meriah di Aceh. Ada dua alasan mengapa penurunan harga itu tak diapresiasi tinggi di Tanah Rencong. Pertama, karena penurunan harga itu tidak sebanding dengan kenaikan yang gila-gilaan. Kedua, harga baru setelah diturunkan, ternyata masih jau lebih mahal jika dibandingkan dengan tarif terbang via Kuala Lumpur menggunakan pesawat AirAsia. Untuk sekali jalan dari Banda Aceh ke Jakarta via Kuala Lumpur masih menghemat duit sekitar Rp 1 jutaan. Oleh sebab itulah, masih banyak warga Aceh yang akan terbang ke Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia via luar negeri.

Memang, kesepakatan maskapai penerbangan menurunkan harga tiket hingga 60 persen untuk jalur domsetik disambut sukacita oleh masyarakat Indonesia. Turunnya harga itu salah satunya karena ada “tekanan” dari masyarakat Aceh. Oleh karenanya, ada media yang memberi judul berita dengan tulisan besar-besar, “Horeee, Harga Tiket Pesawat Turun, Terima Kasih Warga Aceh!”

Tapi, seperti sudah kita jelaskan di awal tadi, bahwa tarif yang kini diberlakukan oleh maskapai yang melayani penerbangan domestik, masih belum bisa bersaing dengan tarif penerbangan yang diterapkan AirAsia yang melayani penerbangan internasional.

Oleh sebab itulah, “perjuangan” Aceh mendapatkan harga tiket pesawat yang terjangkau menuju kota-kota di dalam negeri, khususnya ke Medan dan Jakarta, masih harus terus dilakukan. Protes keras yang dilayangkan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, ke Presiden Joko Widodo via Menhub, adalah bagian dari spirit untuk mendapatkan harga tiket yang layak. Sebab, Pemerintah Aceh selain menyesalkan penaikan harga tiket yang tak memperhitungkan kemampuan masyarakat, juga menilai sikap para maskapai itu secara ekonomi berdampak sangat luas terhadap masyarakat.

Makanya, Pemerintah Aceh meminta para maskapai penerbangan melakukan uji publik dan sosialisasi yang terukur dan masif sebelum menaikkan tarif, terutama untuk maskapai milik negara, seperti Garuda. Pemerintah Aceh pun sudah menawarkan skema penentuan tarif yang lebih rasional, terutama untuk penerbangan dari dan ke Aceh.

Harus diingat, sangat masuk akal jika Aceh meminta diberlakukan tarif khusus pada Garuda Indonesia. Sebab, rakyat Aceh dan Garuda Indonesia Airways memiliki sejarah yang tak boleh dilupakan. Masyarakat Aceh ikut memodali pendirian dan pembelian pesawat pertama Garuda Indonesia yang menjadi cikal bakal lahirnya maskapai penerbangan plat merah itu. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved