Citizen Reporter

Saatnya Kampus di India dan Aceh Bekerja Sama

PERJALANAN saya ke India kali ini sebagai tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan

Saatnya Kampus di India dan Aceh Bekerja Sama
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, MA

Baik rektor maupun wakilnya berpenampilan sederhana, lembut dalam bertutur kata, dan rendah hati. Saat ini Prof Jagadesh Kumar, salah seorang tokoh terkenal di India. Dia pakar teknologi nano, ilmu yang berkaitan dengan atom. Rektor sangat senang mendengar maksud kedatangan kami dan berpeluang dijajaki kerja sama antara kampus-kampus di Aceh dengan kampus di India. Kami katakan universitas di India tak begitu populer di Indonesia. Lulusan SMA atau S1 di Aceh yang ingin studi S2 dan S3 cenderung memilih kuliah di Benua Amerika, Eropa, Australia, atau yang terdekat di Malaysia. Sedangkan pendidikan tinggi di India diakui kualifikasinya di tingkat internasional. Kami katakan, “Kita dekat secara geografis, tapi mengapa terasa jauh ya?” Mendengar ini, rektor tersenyum dan katanya, “Sudah saatnya kita bangun kerja sama.”

Kerja sama di bidang pendidikan dan riset dapat dimulai antara universitas di India dengan universitas di Aceh atau di Indonesia secara umum. “Kami siap membantu,” ujar Rektor Kumar. “Kami memiliki kualitas pendidikan dan SDM profesional dan memadai, terutama di bidang kedokteran, teknologi informasi, farmasi, dan mikrobiologi. Kami punya banyak ahli,” ujarnya.

Di bidang kedokteran, contohnya, India diakui dunia, begitu juga dengan ahli-ahli di bidang IT. “Posisi kita secara geografis berdekatan. Mari bekerja sama!” ajaknya.

Prof Jagadesh Kumar bercerita, ada perguruan tinggi di Afrika yang melakukan MoU dengan JNU untuk kerja sama pendidikan dan saat ini tahap implementasi. “Kami memberikan kuliah melalui e-learning, proses belajar-mengajar dilakukan antara dosen JNU dengan para mahasiswa di universitas di Afrika dengan memanfaatkan teknologi informasi. Kami juga dapat melakukan hal yang sama dengan universitas di Aceh,” ucapnya.

Bagi penguatan data, kami melanjutkan perjalanan riset dalam tim Market Intelligence ke Chennai, Kepulauan Andaman dan Nicobar, dan Mumbai, selaku utusan Kemenlu RI dengan menambah satu anggota lagi, yaitu Dr Muzailin Affan, Kepala Kantor Urusan Internasional Unsyiah. Jadi kian lengkap, ada perpaduan akademisi dan peneliti dari Umuslim, Unimal, dan Unsyiah.

Dr Muzailin Affan diundang oleh sahabatnya, Arnab Das, Executive Officer of International Relations Office of Indian Institut of Technologi (IIT) Bombay untuk mengunjungi kampusnya sekaligus penjajakan kerja sama. Beliau mengajak saya mengunjungi IIT Bombay. Kebetulan Dr Ichsan lebih duluan kembali ke Aceh dalam urusan akreditasi pascasarjana Unimal. Ajakan tersebut segera saya setujui karena ini akan menjadi penguatan kerja sama kolaboratif antara Unsyiah, Umuslim, dan Unimal dalam membangun kerja sama dengan kampus di India.

Sebelum ke IIT Bombay, kami sempatkan mengunjungi rumah Shahrukh Khan dan Salman Khan. Sesampai di IIT Bombay, kami baru tahu setelah mendapat penjelasan dari Arnab Das di ruang kerjanya di Kantor Urusan Internasional bahwa IIT Bombay merupakan kampus terbaik nomor satu di India. Konsepnya seperti Massachusetts Institute of Technology di Amerika. Yang dipelajari di sana tidak hanya ilmu teknik atau IT, tapi juga sosial-humaniora. Lulusannya banyak diterima kerja di luar negeri. Kami benar-benar terkesima. Kami diajak keliling kampus, di mana semua kegiatan tersentral di dalam kampus. Suasananya hijau, bersih, dan tertata rapi. Gedung fakultas, laboratorium, perpustakaan, dan gedung olahraga terbilang besar. Kami juga kunjungi asrama mahasiswa dan melihat aktivitas di dalamnya. Mahasiswanya banyak yang naik sepeda.

Apa yang disampaikan Rektor JNU dan juga Arnab Das tidaklah berlebihan. Jika kita amati, banyak CEO perusahaan kelas dunia berasal dari India. Di antaranya Sundar Pichai (CEO Google), Satya Nadella (CEO Microsoft), Anshuman Jain (CEO-bersama Deutsche Bank), dan Ajay Banga (CEO MasterCard). Banyak pakar IT di perusahaan dunia adalah orang India yang S1-nya ditempuh di di India. Bukan di kampus terbaik di Amerika atau Eropa.

Sudah saatnya kita di Aceh membangun kerja sama yang erat dengan perguruan tinggi di India. Kualitas pendidikan di India selain diakui dunia, juga didukung oleh letak geografis yang lebih dekat dan biaya pendidikan yang relatif lebih murah dibandingkan dengan biaya kuliah di perguruan tinggi di Indonesia, apalagi di Amerika atau Eropa. Sebagai perbandingan, jika Pemerintah Aceh memberi beasiswa kepada mahasiswa Aceh untuk studi S2 atau S3 ke perguruan tinggi di Amerika atau Eropa hanya dapat mengirim satu orang, tapi kalau ke India dapat mengirim tiga hingga empat mahasiswa. Biaya hidupnya hampir sama dengan standar hidup di Aceh. Pemerintah dan perguruan tinggi di Aceh perlu melakukan inisiasi ini bagi peningkatan kualitas SDM di Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved