Irwandi Menamsilkan Dirinya Kena Getah

Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan keberatan atas seluruh keterangan saksi yang menyatakan dirinya

Irwandi Menamsilkan Dirinya Kena Getah
Muhammad Adimaja
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengikuti sidang lanjutan terkait kasus dugaan suap terkait Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018 dan kasus penerimaan gratifikasi terkait pelaksanaan proyek pembangunan Dermaga Sabang yang dibiayai APBN Tahun Anggaran 2006-2011 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (10/12). Nova Iriansyah menjalani sidang sebagai saksi untuk terdakwa Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf. 

* Sidang Lanjutan Kasus DOKA

JAKARTA - Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan keberatan atas seluruh keterangan saksi yang menyatakan dirinya meminta fee dari proyek Dana Alokasi Khusus Aceh (DOKA). Keberatan serupa juga diutarakan dua terdakwa lainnya, Hendri Yuzal dan T Saiful Bahri.

“Saya keberatan atas pertanyaan dan jawaban yang diberikan saksi. Orang lain makan nangka, saya kena getahnya, sampai masuk penjara,” tukas Irwandi Yusuf dengan nada sedikit tinggi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (21/1).

Dalam sidang itu, kembali didengarkan keterangan tiga mantan ajudan bupati nonaktif Bener Meriah, Ahmadi, yakni Muyassir, Munandar, dan Dailami.

Irwandi Yusuf dihadapkan ke ruang sidang bersama-sama dengan dua terdakwa kasus DOKA lainnya, Hendri Yuzal, mantan ajudan Irwandi Yisuf dan T Saiful Bahri, pengusaha Aceh.

“Keterangan soal fee itu bukan dari saya. Kata Muyassir itu dari T Saiful Bahri. Tapi kenapa seolah-olah itu dari saya. Lalu keterangan ini dimasukkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Betul-betul seperti ada penggiringan kepada saya. Saya keberatan atas pertanyaan penyidik sampai kepada jawaban saksi,” tukas Irwandi Yusuf yang mengenakan kemeja dan celana coklat.

Muyassir dalam keterangannya mengaku tentang adanya fee proyek 10 persen berasal dari T Saiful Bahri yang disampaikan kepada dirinya saat pertemuan di pesantren milik Saiful. “Saya memang tidak konfirmasi lagi dan langsung meneruskannya ke Bupati Bener Meriah Ahmadi,” ujar Muyassir.

Terdakwa T Saiful Bahri juga membantah keterangan saksi Muyassir soal adanya fee 10 persen itu. “Saya tak pernah tentukan adanya fee 10 persen. Muyassir salah itu,” tukas T Saiful Bahri.

Ia juga memprotes disebut sebagai ‘Raja Preman’ seperti tertuang dalam BAP Muyassir.

Terdakwa lainnya Hendri Yuzal juga mengajukan bantahan, terhadap keterangan Muyassir. Ia secara khusus bahkan menanyakan kepada Muyassir apakah dirinya pernah minta uang fee dan mengatasnamakan gubernur. Atas pertanyaan ini, Muyasir menjawab “tidak pernah.”

Saksi Dailami, menceritakan dirinya disuruh oleh Bupati Ahmadi mengantarkan uang kepada Muyassir yang sedang di Banda Aceh.

“Saya sama sekali tidak pernah menyebutkan Irwandi meminta fee. Saya juga tidak tahu kepada siapa uang tersebut diserahkan oleh Muyassir. Saya kira keterangan saya sangat jelas,” ujar Dailami.

Uang tersebut antara lain dikumpulkan dari sejumlah rekanan kontraktor di Bener Meriah yang mengikuti lelang proyek bersumber dari DOKA. Awalnya saksi Muyassir menyampaikan kepada Bupati Ahmadi mengenai adanya permintaan uang dari T Saiful Bahri untuk “uang meugang” tim relawan gubernur dan untuk Aceh Maraton. Uang diserahkan dua tahap, sebanyak 1,050 miliar.

Mencermati jalannya sidang, kuasa hukum Irwandi Yusuf, Sayuti Abubakar mengatakan, banyak keterangan para saksi yang sangat aneh dan harus dipertanyakan kembali. “Ternyata banyak berupa asumsi-asumsi saja,” ujar Sayuti Abubakar.

Tim kuasa hukum Irwandi Yusuf juga menanyakan tentang lingkup tugas Muyassir yang berasal dari kepolisian. Termasuk apakah dirinya juga memberi laporan kepada atasanya di kepolisian.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved