Dubes Inggris Tinjau Suasana Politik di Aceh

Kedutaan Besar Inggris mengirimkan dua stafnya ke Aceh untuk meninjau suasana politik menjelang Pemilu 2019

Dubes Inggris Tinjau Suasana Politik di Aceh
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Azhari Cagee 

BANDA ACEH - Kedutaan Besar Inggris mengirimkan dua stafnya ke Aceh untuk meninjau suasana politik menjelang Pemilu 2019. Kedua orang tersebut adalah Ramon Sevilla, Political Officer UK Embassy dan Ardi Hendarto, Asisten Political Officer. Keduanya bertemu dengan Komisi I DPRA, Selasa (23/1).

“Menjelang pemilihan umum, biasanya suhu politik di suatu daerah akan naik. Susana itu yang kami ingin ketahui, makanya berkunjung ke DPRA dan sejumlah lembaga lainnya di Aceh,” kata Ramon Sevilla.

Pihaknya mengaku sengaja memilih Aceh atas beberapa hal, antara lain Aceh pernah konflik 30 tahun, di Aceh juga ada partai politik lokal, Aceh juga berstatus daerah khusus dan istimewa, dan pemerintahannya melaksanakan syarait Islam. “Dengan empat aspek itu, pasti ada suasana yang berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia yang tidak dimiliki di Aceh. Makanya, kami ingin melihat suasana tersebut,” ujar Ramon Sevilla.

Di samping itu, di Aceh juga ada hukum cambuk bagi yang melanggar. Menurut Ramon, hukum cambuk itu masih ditakuti oleh masyarakat Inggris dan Eropa yang akan berkunjung ke Aceh. Masyarakat Inggris dan Eropa menilai hukuman cambuk itu melanggar hak azasi manusia.

Namun ternyata apa yang ia lihat dan dengar di Aceh berbeda dengan perkiraannya. Situasi politik di Aceh masih normal dan belum ada keunikan atau keanehan. Begitu juga tentang hukum cambuk yang ternyata hanya diberlakukan kepada umat muslim, bukan nonmuslim.

Sementara Ketua Komisi I DPRA, Azhari Cage, saat menyambut kedua tamu dari Dubes Inggris tersebut mengatakan, suhu politik di Aceh menjelang masa kampanye pemilu legislatif dan presiden masih normal seperti biasa. “Kondisi daerah masih tetap aman, damai dan nyaman.” ujarnya.

Ia juga menjelaskan tentang pelaksanaan hukum cambuk. Kesan menakutkan itu dikatakan Azhari Cagee karena dipengaruhi cara pemberitaan sejumlah media-media luar. “Islam itu agama yang sangat menghargai HAM dan agama lainnya,” pungkas politisi Partai Aceh itu.

“Yang jangan, setelah masuk ke Aceh, mengganggu. Contohnya, mengajak masyarakat Aceh yang sudah bergama Islam untuk ke luar dan masuk agama lain. Ini yang akan membuat masyarakata Aceh jadi marah besar,” tambah dia.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved