Pecatur Aceh Klarisa Sabila Berhasil ke Seleknas Catur SEA Games, Begini Kisah dan Perjuangannya

Klarisa di Seleknas nanti memiliki peluang untuk lolos masuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas).

Pecatur Aceh Klarisa Sabila Berhasil ke Seleknas Catur SEA Games, Begini Kisah dan Perjuangannya
SERAMBINEWS.COM/ FOTO HUMAS PERCASI ACEH
Satria Ediansyah (Pelatih Catur Aceh) bersama Klarisa Sabila 

Laporan Jalimin | Banda Aceh

SERAMBINEWS. COM, BANDA ACEH - Senyum sumringah terpancar dari wajah Satria Ediansyah saat disebutkan nama Klarisa Sabila (17) sebagai pecatur yang berhasil meraih prestasi di kejuaraan nasional.

Senyum itu merupakan ekspresi kebahagian sebagai seorang pelatih yang berhasil mengantarkan Klarisa meraih medali perak di Kejuaraan Nasional (Kajurnas) ke-47 di Banda Aceh, awal November 2018.

Baca: Live Streaming Perempat Final Indonesia Masters 2019 - Marcus/Kevin Vs Fajar/Alfian Pukul 17.30 WIB

Baca: Harganya Rp 1 Jutaan: Perbandingan Spesifikasi Samsung Galaxy M10 yang Jadi Saingan Xiaomi Redmi 7

Baca: Serahkan Dipa Anggaran 2019, Bupati Simeulue Berharap tidak Ada Pemutusan Kontrak

"Ya kepuasan batin bagi kita, jika atlet yang kita latih berprestasi", ujar Satria dalam perbincangan dengan Serambinews.com, Rabu (23/1/2019).

Sukses menggondol medali perak di Kejurnas, Klarisa pun dipanggil PB Percasi mengikuti seleksi nasional (Seleknas) SEA Games XXX/2019 Manila, yang akan digelar di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Bekasi, Jawa Barat, 27-29 Januari 2019.

Capaian tersebut sekaligus menjadikan pelatih bersertifikat Pelatih Nasional Pratama (PNP) ini menjadi pelatih catur Aceh satu-satunya saat ini yang berprestasi nasional.

Namun, kemungkinan besar, bukan Satria yang akan menangani dan mendampingi pecatur putri Aceh tersebut bertanding di Seleknas nanti.

"Kalau diminta menangani dan mendampingi Klarisa, saya mau. Kalau diminta, tapi bukan pakai biaya sendiri," ujar pria yang meraih sertifikat gelar PNP pada pelatihan pelatih catur tingkat nasional di Palembang, Sumatera Selatan tahun 2011.

"Kalau pakai biaya sendiri, tidak mungkin lagi, karena sudah sering bawa atlet ikut kejuaraan dengan biaya sendiri, termasuk saya mengikuti pelatihan pelatih tingkat nasional di Palembang," katanya.

Meskipun begitu, sebutnya, Klarisa di Seleknas nanti memiliki peluang untuk lolos masuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas).

Peluangnya fifty-fifty (50-50) karena sebagian bakal lawannya sudah pernah dihadapi di Kejurnas dan yang lolos ke Pelatnas peringkat satu hingga tujuh.

Diungkapkannya, Klarisa selama ini tetap rutin melakukan persiapan dan latihan, bahkan sejak menghadapi pertandingan di Kejurnas.

"Jadi dia (Klarisa) siap bertanding di Seleknas dan tetap serius dalam setiap pertandingan," ujarnya.

"Saya yang memberikan latihan kepadanya, termasuk mendampingi dan memberikan arahan pola permainan serta strategi saat bertanding selama di Kejurnas tahun lalu," tuturnya seraya menyebutkan pecaturnya pun bertanding di Kejurnas rekomendasi Percasi Banda Aceh.

Materi latihan yang diberikan kepada Klarisa menghadapi Kejurnas lalu dan persiapan Seleknas di antaranya memperbaiki kelemahan yang masih ada.

Misalnya permainan babak akhir satu kuda dan bidak, gajah, benteng, menteri dan bidak. Menganalisis permainan lewat komputer.

Selain, itu melakukan latih tanding dan mengikuti pertandingan pada turnamen-turnamen lokal umum yang ada.
Untuk mencetak pecatur remaja putri berusia 17 tahun meraih prestasi nasional tidak jadi hanya dalam waktu semalam atau begitu saja.

Tapi melalui proses penempaan dan latihan yang panjang, dimulai sejak usianya tujuh tahun.

Satria menyebutkan Klarisa bisa berprestasi nasional sekarang ini melalui proses penempaan dan latihan yang panjang sejak 9 yang tahun lalu, dan pertama ikut Kejurnas ke-39 tahun 2010 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah di kelompok usia 7 tahun putri, meraih peringkat ke empat.

Ia menceritakan, prestasi pecaturnya itu juga hasil penempaan dari kegiatan kelompok latihan pecatur yunior yang dibuatnya pada 2010 hingga 2014.

Rajin mengikuti kejuaraan terbuka lokal dan nasional.

Ayah dari seorang putra dan putri ini mengatakan, pada masa itu, minat anak-anak (yunior) berlatih catur juga tinggi, apalagi saat itu turnamen khusus yunior juga ada.

Menurutnya, metode-metode latihan yang diterapkan harus bisa membuat anak-anak senang atau gembira berlatih dan bermain catur, sehingga ketika talenta itu muncul tinggal mengarahkan ke prestasi.

Katanya, selain Klarisa yang mencapai puncak prestasinya di Kejurnas, para pecatur yang mengikuti kelompok kegiatan latihan catur yang dibuatnya itu, ada yang berhasil pada turnamen lokal seperti Bobby Fischer yang juga beberapa kali ikut Kejurnas kelompok yunior.

Ada yang tidak mengembangkan lagi karena berbagai faktor, seperti kesibukan kuliah, dan tidak adanya lagi turnamen catur khusus yunior dalam beberapa tahun terakhir ini.

Ayah Klarisa ini khawatir kalau kader pecatur semakin berkurang ke depan, jika tidak ada pembinaan atau pelatihan dan turnamen khusus bagi para pecatur yunior.(*)

Penulis: Jalimin
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved