Semua Rohingya di Langsa Sudah Kabur

Sebanyak 21 pengungsi warga Rohingya, yang baru sebulan lebih berada di Rumah Gepeng Dinas Sosial (Dinsos) Langsa

Semua Rohingya di Langsa Sudah Kabur
SERAMBINEWS.COM/FERIZAL HASAN
Pengunsi Rohingnya di SKB Cot Gapu Bireuen sebelum kabur. SERAMBI 

LANGSA - Sebanyak 21 pengungsi warga Rohingya, yang baru sebulan lebih berada di Rumah Gepeng Dinas Sosial (Dinsos) Langsa, kawasan Gampong Lhok Banie, Kecamatan Langsa Barat, ternyata sudah kabur semuanya dari tempat penampungan sementara tersebut. Awalnya, pada 8 Januari lalu, dua pengungsi Rohingya atas nama Syakara Haman (13) dan Muhammad Zubier (14) dilaporkan kabur dari tempat itu. Lalu, 19 orang lainnya diduga kabur secara bertahap pada 19 sampai 22 Januari 2019.

Menurut catatan Serambi, 20 pengungsi Rohingya pada 4 Desember 2018 ditolong nelayan hingga bisa tiba ke Pelabuhan Kuala Idi, Aceh Timur, menggunakan boat pancing ukuran di bawah 10 GT. Kemudian, mereka dibawa ke Kantor Imigrasi Kelas II Langsa. Dua hari menginap di Kantor Imigrasi, pada 7 Januari 2019, ke 20 pengungsi tersebut ditambah satu warga Rohingya lainnya--sehingga menjadi 21 orang--dibawa dan ditampung ke Panti Gepeng Dinsos Langsa.

Saat itu, Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, menyanggupi dan menawarkan tempat tinggal sementara bagi pengungsi Rohingya tersebut di Panti Gepeng Dinsos Langsa, yang berada di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Gampong Lhok Banie.

Kaburnya 21 orang warga Rohingya yang baru beberapa pekan memperoleh status pengungsi dari UNHCR ini, diduga karena ada pihak yang memfasilitasinya yakni agen. Mereka dijemput ke penampungan Panti Gepeng dan kemudian menuju ke arah Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Oknum agen menghubungi pengungsi melalui handphone dan setelah sepakat pergi barulah mereka dijemput ke sekitar Panti Gepeng. Mereka kabur secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengtahuan petugas Satpol PP, yang selama ini menjaga panti itu.

Setelah dua pengungsi Rohingya kabur pada 8 Januari, lalu pada 19 Januari malam kabur lagi lima orang yaitu Omer Sarif, Nobi Husen, Fahrul Rasid, Amir Ali, dan Mohammad Sholim.

Kemudian, pada 21 Januari 2019 setelah shalat Isya, lima pengungsi Rohingya kembali kabur. Mereka adalah Rosi Tamud, Abdul Mabut, Mohammad Salim, Mohammad Thaes, dan Nur Silam.

Terakhir pada Rabu (22/1) malam, sembilan pengungsi Rohingya yang tersisa di Panti Gepeng Dinsos Langsa, juga dilaporkan kabur. Mereka adalah Mohammad Ismail, Mohammad Amin, Mohammad Salim, Mohammad Abdul Rahim, Mohammad Taker, Mohammad Idris, Abdul Karim, Mohammad Nur Shabi, dan Abdul Rosyid. Menurut warga sekitar yang sempat melihat pengungsi ini keluar dari panti, saat itu mereka dijemput oleh mobil minibus ke sekitar panti dan kemudian bergerak ke arah Medan.

Humanitarian Cordinator Yayasan Geutanyoe, Nasrudin, kepada wartawan, Kamis (24/1), menyesalkan kaburnya ke 21 pengungsi Rohingya tersebut. Ia menduga ada agen khusus atau agen perdagangan manusia (human trafficking) yang memfasilitasi kaburnya warga Rohingya tersebut.

Menurutnya, pengungsi tersebut sampai saat ini belum mengetahui daerah maupun bahasa lokal. “Jadi, bila tidak ada campur tangan agen, rasanya tidak mungkin mereka berani keluar dari penampungan. Kami juga menduga para pengungsi tersebut diiming-imingi sesuatu oleh agen, sehingga mereka mau menerima tawaran keluar dari panti,” jelas Nasruddin.

Sementara itu, rencana relokasi atau pemindahan pengungsi etnis Rohingya dari Kompleks Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Cot Gapu, Bireuen, ke lokasi lain makin tidak jelas jadwal dan lokasi sasarannya. Pemkab Bireuen berharap Dinas Sosial Aceh bersama Plt Gubernur Aceh dan Kementerian Sosial untuk mencari solusi agar pengungsi yang tersisa sebanyak 45 orang itu bisa segera direlokasi.

Kadis Sosial Bireuen, Dr Murdani kepada Serambi, Kamis (24/1), keberadaan warga Rohingya di Bireuen yang hampir setahun membuat Pemkab Bireuen kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Menurutnya, bantuan dari Kementerian Sosial RI melalui Dinsos Aceh beberapa waktu lalu untuk stok 45 hari yang diserahkan 29 Desember lalu kini sudah memasuki hari ke 27.

Dikatakan, pihaknya sudah menyampaikan hal tersebut ke Dinsos Aceh dan berharap segera ada solusi untuk relokasi pengungsi asal Myanmar tersebut. “Awalnya ada wacana akan dipindahkan ke Langsa, namun sekarang sudah tak jelas lagi jadwalnya,” ujarnya. Ditambahkan, petugas keamanan dari Satpol PP yang ditempatkan di lokasi tersebut juga butuh perhatian dari pemerintah karena mereka bertugas siang dan malam.

Dijelaskan, pengungsi Rohingya itu sudah berada di SKB Cot Gapu mereka sudah sejak April 2018 atau hampir setahun. Dulu, mereka berjumlah 79 orang. Tapi,sekarang hanya tersisa 54 orang, sementara 34 orang lainnya sudah kabur dari lokasi tersebut. Penyebab kaburnya pengungsi Rohingya antara lain areal SKB luas, tenaga pengamanan kurang, serta mereka tidak betah dan membutuhkan kehidupan yang layak seperti orang lain.(zb/yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved