Warga Protes Perobohan Batang Kelapa Sawit

M Nur alias Pawang, warga Desa Babah Rot, Kecamatan Tadu Raya, Nagan Raya melakukan protes atas perobohan tanaman

Warga Protes Perobohan Batang Kelapa Sawit
Mongabay Indonesia / Junaidi Hanafiah
Alat berat yang dipakai untuk membuka perkebunan kelapa sawit di Suaka Margasatwa Rawa Singkil. 

SUKA MAKMUE – M Nur alias Pawang, warga Desa Babah Rot, Kecamatan Tadu Raya, Nagan Raya melakukan protes atas perobohan tanaman kelapa sawit miliknya yang selama ini dijadikan sebagai sumber perekonomian. Namun, menurut aparat desa, kelapa sawit yang dirobohkan itu berada di pinggir jalan, sehingga terkena proyek penggalian parit.

“Saya hanya meminta kebijakan saja sama aparat desa terhadap sejumlah batang kelapa sawit milik saya yang telah dirobohkan itu. Sebab, selama ini batang sawit itu sudah ada hasil untuk keluarga saya, di mana sekali panen sekitar Rp 200 ribu,” kata M Nur kepada Serambi, Minggu (27/1).

Menurut dia, semestinya perobohan kelapa sawit harus diberitahukan dulu dan meminta izin kepada dirinya. Sedangkan, saat perobohan kelapa sawit itu, M Nur mengaku, tidak berada di tempat karena selama ini dia menyewa rumah lain.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Babah Rot, Ali Hasyimi membantah jika pihaknya tidak memusyawarahkan menyangkut pembangunan parit jalan. Bahkan, jelasnya, pihak desa juga sudah menginstruksikan kepada semua warga agar tetap mengawasi semua lokasi proyek parit jalan yang ada tanaman.

Ia menambahkan, sudah beberapa tahun, Pawang tidak menempati rumah bantuan tersebut, sehingga ada beberapa batang kelapa sawit yang terkena pembangunan parit jalan. “Jika yang bersangkutan meminta ganti rugi, tentu kita akan mengantikannya. Kita di desa tidak ada masalah terkait hal itu, dan pembangunan yang kita jalankan itu juga untuk kepentingan warga itu sendiri,” tutupnya.(c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved