Jaksa Eksekusi Ibu dan Anak Terpidana Kasus Damkar

Dua terpidana kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri

Jaksa Eksekusi Ibu dan Anak Terpidana Kasus Damkar
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan mobil pemadaman kebakaran (Damkar) tangga senilai Rp 17,5 miliar mengikuti sidang pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Banda Aceh. SERAMBI/M ANSHAR 

BANDA ACEH - Dua terpidana kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh, Jumat (25/1) untuk menjalani hukuman setelah adanya putusan Mahkamah Agung (MA).

Kajari Banda Aceh, Erwin Desman melalui Kepala Seksi Pidana Khusus, Iskandar, Selasa (29/1) mengatakan, kedua terpidana korupsi yang menyerahkan diri tersebut yakni Dheny Octa Priadi bin Sugito selaku Direktur Utama PT Dezan dan Ratziaty Yusri binti M Yunus Muhammad yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT Dezan. Keduanya berstatus sebagai ibu dan anak.

Sebelumnya, pada 2017 ibu dan anak tersebut sudah divonis di Pengadilan Tipikor Banda Aceh atau tingkat pertama masing-masing tujuh tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan dan menjalani hukuman.

Namun keduanya melakukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Banda Aceh. Lalu pada 9 Januari 2018 Majelis Hakim PT Banda Aceh menvonis bebas keduanya, karena hakim menilai pelelangan oleh PT Dhezan sudah sesuai aturan. Lalu keduanya dibebaskan dari penahanan.

Terkait vonis bebas dari Majelis Hakim PT, Jaksa dari Kejari Banda Aceh melakukan kasasi ke MA. Sehingga MA kembali memberi putusan keduanya bersalah dan harus segera dieksekusi.

Kejari Banda Aceh pun langsung menyurati terpidana Dheny Octa Priadi dan Ratziaty Yusri binti M Yunus Muhammad pada 18 Januari 2019. Didampingi pengacaranya, kedua terpidana menyerahkan diri ke Kejari Banda Aceh, Jumat (29/1). Kemudian, pihak kejaksaan langsung menahan keduanya untuk menjalani hukuman.

Dheny Octa Priazi ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh di Aceh Besar. Sedangan terpidana Ratziaty dieksekusi ke Cabang Rutan Wanita Lhoknga, Aceh Besar.

“Kedua terpidana datang menyerahkan diri ke kejaksaan dengan didampingi kuasa hukumnya pada Jumat 25 Januari 2019. Lalu kita bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan, kemudian Dheny dieksekusi ke Lapas Banda Aceh dan Ratziaty ke Rutan Wanita Lhoknga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya, Kejari Banda Aceh sudah melayangkan surat eksekusi kepada kedua terpidana. Keduanya dinyatakan melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan negara Rp 4,7 miliar. Korupsi itu dilakukan melalui PT Dhezan, yang merupakan perusahaan pengadaan mobil damkar canggih senilai Rp 17,5 miliar.

Iskandar menyebutkan, terpidana Dheny Octa Priadi divonis berdasarkan putusan MA dengan hukuman tujuh tahun penjara serta denda Rp 200 juta subsider enam bulan penjara. Sementara terpidana Ratziati Yusri dihukum lima tahun penjara berdasarkan putusan yang sama dan denda Rp 200 juta subsider membayar denda.

Khusus untuk terpidana Dheny Octa juga dihukum membayar uang pengganti Rp 4,7 miliar. Jika terpidana tidak memiliki harta dan tidak membayar uang pengganti, maka dihukum tiga tahun penjara.

Iskandar menambahkan, dalam kasus korupsi pengadaan mobil damkar tersebut ada empat terpidana. Selain dua terpidana yang menyerahkan diri, dua terpindana lainnya sudah dieksekusi terlebih dahulu yaitu Siti Maryami selaku KPA/PPK pada Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh dan Syahrial selaku Ketua Pokja Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Aceh.

Pengadaan mobil damkar dengan tangga 30 meter dan memiliki teknologi tinggi itu dilakukan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh. Anggaran pengadaan mencapai Rp 17,5 miliar yang bersumber dari APBA 2014. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved