DPRK Pidie Sorot Pendidikan

DPRK Pidie kembali memberi sorotan pendidikan atas masih banyak murid kelas VI SD dan juga SMP

DPRK Pidie Sorot Pendidikan
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Wabup Pidie, Fadhlullah TM Daud ST, membacakan Nota Keuangan dan RAPBK Pidie di Kantor DPRK Pidie 

* Masih Ada Pelajar Kelas VI dan SMP tak Bisa Membaca

SIGLI - DPRK Pidie kembali memberi sorotan pendidikan atas masih banyak murid kelas VI SD dan juga SMP, ternyata belum juga bisa membaca. Tiga anggota DPRK Pidie secara terpisah mengakui terkejut saat membaca berita di Harian Serambi Indonesia, edisi Selasa (29/1), bahwa masih ada pelajar yang belum bisa membaca.

Ketiga anggota dewan itu yakni Khairil Syahrial MAP (Ketua Komisi E DPRK Pidie membidangi pendidikan), kemudian Teuku Saifullah TS dan Drs Isa Alima, keduanya anggota dewan.

Khairil mengaku sangat kecewa ketika dinas menyampaikan program peningkatan mutu, tapi kenyataannya pendidikan dasar belum mampu dituntaskan. “Hal itu menunjukkan gagalnya pendidikan di Pidie, karena anggaran besar belum tentu menjamin meningkatnya mutu pendidikan,” tegas Khairil.

Terhadap persoalan ini, pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pidie. “Pemkab harus mengevaluasi program pendidikan yang ada. Kiranya dana alokasi peningkatan mutu betul-betul untuk peningkatan mutu, bukan untuk hal lain,” tutur Khairil, politisi Partai Gerindra ini.

Sedangkan Teuku Saifullah TS juga mengungkapkan kekewaan dan tak habis pikir soal kenyataan pendidikan ini. “Apa salah dan siapa salah, tidak mungkin disalahkan, tetapi hal harus menjadi perhatian semua pihak,” katanya.

Teuku Saifullah mengatakan, kucuran dana pendidikan mencapai seratusan miliar lebih dengan 20 persen bersumber dari APBN, belum termasuk dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Kemudian katanya, ada lagi Dana BOS, biaya rutin operasional, sertifikasi dan anggaran menunjang wajib belajar.

“Ada enam item yang baru kita sebut. Jadi kalau masih ada anak SMP belum bisa membaca menjadi sebuah kenyataan yang miris di daerah kita,” tutur Teuku Saifullah yang akrab disapa TS. Dia menyatakan seharusnya, pemerintah juga perlu meninjau dan mengevaluasi kondisi pendidikan di semua titik.

“Harus menempatkan tenaga pendidik atau kepala sekolah yang betul-betul maksimal bekerja,” katanya. Dia mencontohkan, saat ini minat anak masuk sekolah unggul negeri juga masih rendah. “Ada apa ini, kenapa anak tingkat SMP lebih memilih SMA/sederajat ke Banda Aceh,” tandas TS.

Komentar senada juga dikatakan Drs Isa Alima yang menyayangkan anggaran besar di sektor pendidikan. “Arang habis besi binasa. Dana pendidikan habis, masih ada murid tidak membaca,” tutur Isa. Dia meminta ditangani secara cepat dengan melibatkan semua unsur, dalam untuk meningkatan mutu pendidikan. “Wali murid juga harus lebih peduli dengan pendidikan anak-anaknya,” katanya.

Isa Alima mengatakan tidak perlu mencari siapa yang salah, tapi harus menjadi pelajaran besar bagi pendidikan di daerah ini. “Ini jadi sejarah pendidikan terburuk di Pidie, dan perlu diturunkan Panitia khusus untuk melihat masalah ini,” pungkas Isa Alima, Politisi Gerindra Pidie.

Seperti diberitakan sebelumnya, satu penelitian secara acak yang dilakukan tim Dinas Pendidikan (Disdik) Pidie menemukan satu kondisi sangat memprihatinkan di mana ada peserta didik yang duduk di kelas VI SD dan SMP belum bisa membaca.

“Fakta ini saya temukan sendiri waktu saya datang ke sekolah dan mencoba langsung anak-anak membaca. Ternyata saya menemukan anak kelas VI SD dan SMP yang tidak bisa membaca,” ungkap Kadisdik Pidie, H Idhami SSos kepada Serambi, Senin (28/1). Namun, Idhami meminta tidak menulis sekolah dengan temuan memprihantinkan tersebut.(aya)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved