Breaking News:

Istri Dominan Gugat Suami

Angka perceraian di Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen setiap tahunnya mengalami peningkatan

Editor: bakri
Istri Dominan Gugat Suami
IST

* Di Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen

LHOKSEUMAWE – Angka perceraian di Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen setiap tahunnya mengalami peningkatan. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir ini, trend perceraian lebih didominasi oleh cerai gugat (istri yang menggugat suami). Sementara kasus cerai talak (suami yang mengajukan) lebih kecil.

Berdasarkan data Mahkamah Syar’iah Kota Lhokseumawe, dalam tiga tahun terakhir, lebih banyak kaum wanita yang meminta cerai dari pada suami. Panitera Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe, Khudaini SH kepada Serambi secara terbuka mengakui, bahwa angka pun mencapai 65-35 persen.

Khudaini menyebutkan, penyebab dominan istri meminta cerai terhadap suami karena faktor ekonomi, pertengkaran berkepanjangan dalam rumah tangga, dan kasus perselingkuhan meski sangat kecil. “Dari data tiga tahun terakhir, mayoritas yang meminta cerai adalah pihak wanita,” jelasnya.

Ketua Mahkamah Syariah Bireuen, Drs Amiruddin SH MH yang dihubungi Serambi secara terpisah menyebutkan, perselisihan, cekcok keluarga dan pertengkaran mendominasi penyebab terjadinya perceraian di kabupaten setempat. “Umumnya, kaum wanita yang dominan melakukan cerai gugat dibandingkan laki-laki yang mengajukan cerai talak,” tegasnya.

Menurut Amiruddin, sebagian yang mengajukan cerai gugat sejak tiga tahun terakhir didominasi wanita. Penyebab terjadinya perceraian karena faktor ekonomi seperti suami tak memiliki pendapatan tetap, atau suami malas. Selain itu, pendapatan ekonomi lumayan dan tetap, namun pengelolaan keuangan rumah tangga bermasalah atau boros.

“Serba kompleks kalau masalah ekonomi. Namun itu yang paling dominan. Apalagi, zaman sekarang banyak ikut-ikutan dengan pola hidup mewah, padahal kemampuan pendapatan suaminya terbatas,” papar Ketua Mahkamah Syar’iah Bireuen.

Kondisi serupa juga terjadi di Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon, Aceh Utara. Di mana, kasus perceraian dalam tiga tahun terakhir lebih banyak cerai gugat (permohonan istri) dibandingkan dengan cerai talak (permohonan suami). Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi, keterlibatan pihak ketiga (perselingkuhan), dan narkoba.

“Ya, memang benar, kasus cerai gugat lebih tinggi dalam tiga tahun terakhir yang kita tangani,” ungkap Ketua Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon, M Wali Syam kepada Serambi, Rabu (30/1).

Disebutkan, dari jumlah kasus itu yang ditangani setiap tahunnya hanya beberapa kasus saja yang bisa diselesaikan secara mediasi, yaitu sekitar lima kasus. “Setiap permohonan kasus cerai talak dan cerai gugat, kita selalu memediasikan. Karena itu memang prosedurnya. Tapi sangat sedikit yang bisa kita selesaikan secara mediasi,” kata M Wali Syam.

Menurut Ketua Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon, kasus perceraian yang terjadi di Aceh Utara banyak disebabkan karena faktor ekonomi. Lalu perselisihan yang pertengkaran secara terus menerus, kehadiran orang ketiga, dan suami dipenjara sebab terlibat kasus seperti narkoba. “Kasus perceraian ini dapat ditekan dengan aktifnya peran aparat desa, sehingga dapat diselesaikan di tingkat desa,” pungkasnya.

Pada bagian lain, M Wali Syam mengungkapkan, dari 33 perkara yang biasa ditangani Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon, untuk kasus izin poligami baru satu yang diterima pada 2018. Sedangkan pada 2016 dan 2017 kosong. “Kasus permohonan izin poligami pernah kita tangani pada Agustus 2018,” katanya.

Permohonan itu, sebutnya, dapat dikabulkan karena istrinya pemohon mengizinkan. Kecuali itu, sesuai dengan keterangan dari saksi bahwa pemohon memiliki kemampuan untuk menafkahi dua istri.(bah/yus/jaf)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved