Transportasi Online Boleh Ambil Sewa di Diponegoro

Spanduk bertuliskan larangan/tidak mengizinkan transportasi online (Grab dan GoJek) mengambil sewa/penumpang

Transportasi Online Boleh Ambil Sewa di Diponegoro
MUZAKIR TULOT, Kadishub Kota Banda Aceh

* Yang Dilarang Ngetem

BANDA ACEH - Spanduk bertuliskan larangan/tidak mengizinkan transportasi online (Grab dan GoJek) mengambil sewa/penumpang di Jalan Diponegoro sebagaimana dipasang oleh yang mengatasnamakan betor (becak motor) wilayah Kota Banda Aceh ditanggapi kalangan driver transportasi online.

“Pasar Aceh sudah ada larangan gak boleh ambil sewa di seputaran Jalan Diponegoro,” tulis seorang driver transportasi online yang diposting ke grup WhatsApp Grab Solidarity (GS) pada pukul 16.16 WIB, Jumat (1/2).

Postingan yang ditembuskan ke Serambi tersebut juga menyertakan foto spanduk yang dicetak di atas bahan dasar merah dengan logo Grab di sudut kiri atas dan logo GoJek di sudut kanan atas.

Pemberitahuan yang ditulis dengan hurup kapital itu berbunyi; Dengan hormat, kami atas nama betor wilayah Kota Banda Aceh melarang/tidak mengizinkan transportasi online untuk mengambil sewa/penumpang di seputaran area Jalan Diponegoro. Ttd Koppertiara.

Ketua komumitas Grab Solidarity (GS) Aceh, Lasdianto membenarkan telah menerima informasi dari anggotanya tentang keberadaan spanduk tersebut. “Kita berharap adanya kejelasan dari Dishub Kota Banda Aceh tentang larangan dimaksud, apakah memang dilarang secara total atau bagaimana. Insya Allah kami dari driver Grab menginginkan yang terbaik tanpa ada yang merasa dirugikan apalagi harus ribut-ribut,” ujar Lasdianto.

Dilarang ngetem
Kadishub Kota Banda Aceh, Muzakir Tulot yang dikonfirmasi Serambi tentang larangan tersebut mengakui selama ini sudah sering terjadi persoalan di lapangan antara petugasnya dengan driver transportasi online.

“Kita berupaya menertibkan namun terkadang mereka (driver online) sering main kucing-kucingan. Mereka sering menyiasati larangan parkir dengan tidak mematikan mesin sehingga mereka beralasan cuma berhenti. Kita berusaha menghindari terjadi konflik di lapangan makanya kita tertibkan,” kata Muzakkir Tulot.

Ditanya tentang adanya spanduk larangan bagi transportasi online untuk mengambil sewa/penumpang di Jalan Diponegoro, Muzakkir Tulot mengatakan sebenarnya bukan larangan mengambil sewa tetapi yang dilarang ngetem (menunggu sewa). Larangan itu juga berlaku di beberapa ruas jalan lainnya seperti di depan Suzuya Mall, Seutui. “Untuk lebih jelasnya tentang bunyi spanduk itu, tolong hubungi Pak Zubir (Kabid LLA Dishub Kota Banda Aceh),” kata Muzakkir Tulot.

Kabid LLA Dishub Kota Banda Aceh, Muhammad Zubir SSiT MSi yang dihubungi terpisah juga membenarkan upaya penertiban yang dilakukan pihaknya terhadap transportasi online.

“Beberapa waktu lalu dalam satu pertemuan dengan driver Grab di Auditorium RRI Banda Aceh saya ikut diundang dan mengingatkan tentang hal-hal yang tidak boleh dilanggar yang bisa berakibat muncul masalah di lapangan,” kata Zubir.

Mengenai spanduk larangan mengambil sewa di Jalan Diponegoro, Zubir juga membenarkan yang dilarang adalah ngetem (menunggu) di ruas jalan tersebut.

“Sebenarnya bagi transportasi berbasis online tidak perlulah harus ngetem di lokasi-lokasi yang bisa mengganggu kelncaran lalulintas atau bisa berbenturan dengan jenis angkutan lain, misalnya betor. Kalau masuk panggilan, silakan meluncur ke lokasi tersebut untuk menjemput,” katanya.

Hingga pukul 17.30 WIB, Jumat (1/2), spanduk larangan tersebut dilaporkan masih terpasang. Muhammad Zubir berjanji akan berkoordinasi dengan unsur pimpinan betor guna menyesuaikan antara penegasan Kadishub dengan tulisan yang tertera di spanduk. “Pak Kadis menegaskan tidak boleh ngetem, maka tulisan di spanduk akan kita sesuaikan agar sinkron,” demikian Muhammad Zubir.(nas)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved