Krueng Cubo tanpa Jembatan

Krueng atau Sungai Cubo di kawasan pedalaman Gampong Sarah Panyang, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya

Krueng Cubo tanpa Jembatan
SERAMBI/ABDULLA GANI
SEORANG warga menggendong anaknya untuk berangkat ke sekolah saat menyeberangi sungai di Sarah Panyang, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, Sabtu (2/2). 

* Warga Sarah Panyang Arungi Sungai

MEUREUDU - Krueng atau Sungai Cubo di kawasan pedalaman Gampong Sarah Panyang, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya (Pijay_) belum dibangun jembatan. Sungai dengan lebar sekitar 300 meter harus diseberangi warga setiap hari, termasuk anak-anak sekolah.

Warga menyeberangi sungai saat air surut, tetapi saat arus deras, harus berdiam di rumah, termasuk ke desa tetangga atau keude Luengputu, Ibu Kota Kecamatan Bandarbaru untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Kondisi itu tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi mulai dari anak TK, SD sampai SMP harus menyeberangi sungai, termasuk saat debit air sungai naik.

Sebagian anak sekolah diantar dan dijemput oleh orangtuanya masing-masing termasuk membopong hingga ke seberang sungai, tetapi saat banjir, anak-anak tidak bisa sekolah. warga Gampong Sarah Panyang meminta pemerintah kabupaten dan provinsi untuk segera membangun jembatan, seusai jembatan lama ambruk sekitar 15 tahun lalu.

Dua ibu rumah tangga yang sedang mencuci pakaian di pinggiran Sungai Cubo, Sabtu (2/2) mengaku kecewa dengan belum ada tanda-tanda jembatan dibangun kembali. Mereka menyatakan sebagian anak-anak Sarah Panyang yang sebelumnya harus menyeberang sungai untuk sekolah di Dusun Lhok Duek, masih dalam satu gampong, pindah sekolah Jiem-Jiem.

Keduanya menyatakan walau jauh, para orangtua lega karena tidak harus mengarungi sungai. “Saat ini, sekitar 10 anak yang belum pindah, sedangkan lainnya sudah pindah ke SD Jiem-Jiem,” timpal seorang ibu rumah tangga tadi. Menanggapi hal itu, Kadis PU Pijay, Bahkrom Bhakti ST yang dikonfirmasi sebelumnya membenarkan warga Sarah Panyang mengeluhkan ketiadaan jembatan penyeberangan. “Membangun jembatan gantung dengan bentangan Sungai Cubo hampir mencapai 300 meter, tidak mungkin dilakukan oleh pemkab,” katanya.

Dia menyatakan Pemkab Pijay tidak mampu membangun jembatan dengan dana APBK, karena membutuhkan anggaran sekitar Rp 15 miliar. Dia meminta warga bersabar, karena pihaknya sedang meminta provinsi untuk membangun jembatan di Gampong Sarah Panyang.

Sementara, puluhan anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang tinggal di Gampong Abah Lueng, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, harus berjalan kaki sepanjang enam kilometer untuk pergi dan pulang dari sekolah di Jiem-Jiem. Saat hujan deras, anak-anak tersebut tidak bisa pergi sekolah.

Warga meminta Pemkab Pijay menyediakan satu unit mobil pikap untuk mengangkut anak sekolah dan warga ke ibu kota kecamatan. Jarak tempuh dari Abah Lueng ke Jiem-Jiem sekitar tiga kilometer, dengan kondisi jalan belum beraspal, bahkan di beberapa titik seperti ‘kubangan kerbau’ saat hujan turun.

Seorang warga mengatakan anak-anak sudah terbiasa jalan kaki, walaupun jauh ke sekolah, kata seorang warga. “Mau dibilang apa lagi, memang sudah begini kondisi kami dari tahun ke tahun, tanpa perhatian pemerintah untuk membangun sarana dan prasarana, seperti jalan, jembatan dan lainnya,” kata seorang warga.

Sejumlah warga lainnya mempersoalkan rumah bantuan gempa yang belum juga rampung dibangun. Keluhan tersebut disampaikan sejumlah warga Abah Lueng, Sabtu (2/2) yang juga meminta pemkab menyediakan mobil pikap, selain untuk antar jemput anak sekolah juga untuk kebutuhan lainnya ke ibukota kecamatan.

Warga menambahkan saat hendak takziah ke luar Jiem-Jiem, juga butuh kendaraan roda empat, karena jarak ke Keude Luengputu hampir 10 kilometer. Selain rute ke Jiem-Jiem hanya sebagian beraspal, jalan menuju area perkebunan juga harus ditingkatkan, karena saat musim hujan, jalan tidak bisa dilalui roda empat.

Di kawasan ini terbentang tanaman coklat di area sekitar 200 hektare, bantuan Dinas Perkebunan dan Peternakan 2018 dan memiliki potensi untuk pengembangan tanaman rambutan dan langsat. Sedangkan ketersedian air di kawasan perbukitan lebih dari cukup.(ag)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved