80 Rumah Transmigrasi Terbengkalai

Puluhan rumah transmigrasi di kawasan Desa Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya terbengkalai

80 Rumah Transmigrasi Terbengkalai
SERAMBI/RISKI BINTANG
RUMAH transmigrasi di kawasan Desa Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya terbengkalai akibat tidak dihuni pemiliknya, Rabu (6/2). 

* Diduga Ada yang Diperjualbelikan

CALANG - Puluhan rumah transmigrasi di kawasan Desa Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya terbengkalai. Informasi yang diterima Serambi, Rabu (6/2), menyebutkan, total rumah transmigrasi itu mencapai 80 unit. Karena tidak ditempati, kini rumah tersebut mulai ditumbuhi semak belukar akibat tidak adanya perawatan dari pemilik.

Keuchik Paya Seumantok, Jailani menjelaskan, rumah tersebut dibangun pada tahun 2010 dengan jumlah mencapai 80 unit. “Rumah tersebut tidak pernah dihuni secara tetap oleh pemiliknya setelah dibangun pada tahun 2010,” jelasnya.

Bukan hanya tidak dihuni, beber Jailani, ada sebagian rumah yang malah sudah dijual oleh pemiliknya. Dia menduga, para pemilik rumah tranmigrasi tersebut sudah punya rumah sendiri di tempat lain, sehingga tidak tinggal di situ. “Sebenarnya, jika tidak diganti rugi oleh warga desa lain dan rumah tersebut dikelola oleh desa, bisa saja kita berikan kepada keluarga yang belum punya rumah sendiri,” ungkap Jailani.

Untuk itu, ia berharap, agar rumah tersebut dapat difungsikan oleh pemiliknya supaya kawasan setempat kembali hidup seperti dulu sebelum konflik Aceh. “Kita juga berharap, ke depan dapat dibangun lagi rumah ditempat tersebut untuk masyarakat yang tidak punya rumah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Jaya, Fahmi kepada Serambi, Rabu (6/2), mengatakan, pihaknya akan mengupayakan agar pemilik rumah kembali menempati rumah transmigrasi yang kini terbengkalai tersebut. “Itu sudah diserahkan ke desa, karena itu punya provinsi semua,” ujarnya.

Fahmi menekankan, itu bukanlah tugas pihaknya dikarenakan perumahan tersebut sudah diserahkan oleh provinsi kepada desa semuanya. “Saya kurang tahu juga penyerahan rumah tersebut, itukan tahun 2010, kami belum di dinas ini (Disnakertrans),” tandasnya. “Di Aceh Jaya cuma ada dua kawasan transmigrasi lokal, satu di Kecamatan Krueng Sabee, dan satunya lagi di Kecamatan Setia Bakti,” tukas Fahmi sambil menjelaskan jika tidak ada rumah transmigrasi yang dijual.

Di lain pihak, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Aceh Jaya, T Asrizal meminta, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat untuk melakukan pendataan kembali pemilik rumah transmigrasi yang kini terbengkalai. “Harus didata kembali pemilik rumah itu dan harus diminta pemilik rumah tersebut untuk kembali menempati rumahnya dengan diberi limit waktu. Jika dalam limit waktu tidak ditempati, maka alihkan saja kepada orang lain,” tegasnya.

Terkait adanya dugaan rumah sudah dijual, T Asrizal memaparkan, harus dipelajari regulasi terlebih dahulu apakah diperbolehkan penerima rumah transmigrasi untuk menjualnya atau tidak. “Kalau tidak boleh dijual harus diproses, jika boleh dijual maka bagaimana regulasinya, itukan rumah bantuan pemerintah,” paparnya. “Kita juga akan memanggil dinas terkait untuk memintai keterangan terkait terbengkalainya perumahan tersebut,” tutupnya.(c52)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved