Forkopimda Kumpulkan Keuchik

Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) membahas soal jembatan Ulee Raket di Sawang Teube

Forkopimda Kumpulkan Keuchik
SERAMBI/RIZWAN
Warga dari 13 desa di Kecamatan Kaway XVI dan Pante Ceureumen, Aceh Barat gotong royong menyemen jembatan Ulee Raket, Kaway XVI yang roboh dan miring untuk dapat dilintasi 

* Bahas Jembatan Ulee Raket
* Untuk Redam Ancaman Konflik Warga

MEULABOH – Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) membahas soal jembatan Ulee Raket di Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Senin (11/2) siang. Pertemuan yang diprakarsai Polres dan Kodim 0105 untuk meredam konflik antarwarga itu dipusatkan di aula Mapolres Aceh Barat.

Pertemuan itu dihadiri semua keuchik dan mukim dari dua kecamatan, yakni Kaway XVI dan Pante Ceureumen. Turut juga dipanggil camat dari dua kecamatan yaitu Camat Kaway XVI Yusrizal dan Camat Pante Ceureumen T Juanda, serta pejabat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kabupaten setempat.

Forum terbuka itu dipimpin Kapolres AKBP Raden Bobby Aria Prakasa bersama Dandim Letkol Nurul Diyanto. Turut hadir, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Zulfadly, Kasi Intel Kejari Andi Fiktri, Ketua DPRK Ramli SE, Ketua MAA Tjut Agama, serta Ketua MPU Tgk Abdul Rani.

Dalam pertemuan tersebut, masing-masing peserta menyampaikan argumen mereka terhadap rencana pembangunan kembali jembatan Ulee Raket yang roboh pada November 2018 lalu. Pantauan Serambi, hingga Senin petang, pertemuan yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB itu, masih berlanjut setelah sempat diskor sekitar 30 menit untuk menjalankan Shalat Ashar berjamaah di musala Mapolres.

Selama ini, jembatan Ulee Raket digunakan oleh semua warga dari Kecamatan Pante Ceureumen dan sebagian penduduk Kaway XVI sebagai akses menuju ke pusat kota atau sebaliknya. Sedangkan, Pemkab merencanakan membangun kembali jembatan yang roboh itu di tempat lain yaitu di Desa Keuramat dengan dalih lokasi lama rawan tergerus erosi. Sebaliknya, masyarakat dari 13 desa di dua kecamatan itu tetap meminta jembatan baru bernilai Rp 20 milliar tersebut dibangun pada lokasi lama.

Sebagai bentuk protes atas rencana Pemkab memindahkan lokasi jembatan baru, masyarakat secara swadaya memperbaiki kembali jembatan Ulee Raket yang roboh untuk bisa dilintasi lagi. Aksi warga itu direspons Pemkab dengan mengeluarkan surat imbauan berisikan larangan bagi masyarakat untuk melintasi jembatan Ulee Raket yang miring karena rawan roboh total.

Kapolres Aceh Barat, Raden Bobby Aria Prakasa dan Dandim Nurul Diyanto yang ditanyai di sela-sela pertemuan mengatakan, pertemuan itu sengaja digelar bersama oleh Polres dan Kodim sebagai langkah untuk meredam terjadinya polemik antara masyarakat di dua kecamatan tersebut. “Kami gelar pertemuan ini sebuah langkah penyelesaian serta duduk bersama menyelesaikan dengan cara kekeluargaan,” kata Kapolres.

Dijelaskannya, perihal pembangunan jembatan baru pengganti jembatan Ulee Raket yang roboh telah membelah masyarakat. Pasalnya, ada satu kelompok yang meminta tetap dibangun di lokasi semula, namun sekelompok lagi justru setuju dipindah agar bisa cepat siap dalam kurun waktu dua tahun. Karena itu, terangnya, pertemuan tersebut diharapkan dapat menyatukan kembali masyarakat yang selama ini berbeda pendapat.

Sementara itu, dua alat berat jenis excavator (beko), sejak Minggu (10/2) hingga Senin (11/2) kemarin, dikerahkan ke lokasi jembatan Ulee Raket di Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI yang roboh pada November 2018 lalu. Pengerahan dua init alat berat tersebut untuk mengeruk lahan masyarakat guna mengalihkan aliran Krueng Meureubo sehingga arusnya tidak lagi menghantam posisi jembatan yang kini roboh dan miring. “Alat berat masih kerja. Pengerukannya sepanjang 500 meter dengan lebar 5 meter,” ujar Keuchik Sawang Teube, Zulbaili kepada Serambi, kemarin.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved