Perindag Aceh Data Industri Air Mineral

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Aceh, Muhammad Raudhi, Senin (11/2), melakukan peninjauan

Perindag Aceh Data Industri Air Mineral
SERAMBI/HERIANTO
KADIS Perindag Aceh, Muhammad Raudhi, meninjau industri IKM air mineral di Ajun Jempit, Aceh Besar, dalam rangka tindak lanjut surat Plt Gubernur Aceh tentang memprioritaskan penggunaan produk Industri Kecil Menengah (IKM) lokal, Senin (11/2). 

* Untuk Mengetahui Kualitas Produk

BANDA ACEH - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Aceh, Muhammad Raudhi, Senin (11/2), melakukan peninjauan ke dua lokasi industri kecil dan menangah (IKM) air mineral, di Gampong Ajun Jeumpit dan Mata Ie, Aceh Besar. Peninjauan itu juga untuk menindaklanjuti surat Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang mengimbau agar Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) memprioritaskan produk lokal dalam setiap kegiatan.

“Kunjungan ini sangat penting, untuk memotivasi IKM air mineral lokal dalam memenuhi kebutuhan air mineral kemasan dan galon di Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya, bisa berkembang pesat,” kata Muhammad Raudhi kepada Serambi, usai melakukan peninjauan.

Selaku pembina industri kecil dan menengah, kata Raudhi, Disperindag Aceh perlu melakukan penadataan dan pemetaan IKM. Langkah itu diperlukan untuk mengetahui kapasitas dan kualitas produksi dari IKM itu.

Misalnya, kata Raudhi, produsen Righ Water di Desa Mata Ie, setiap hari memproduksi air mineral gelas sebanyak 3.500 karton air dengan harga Rp 17.000/kotak, dan juga ukuran galon yang dijual dengan harga Rp 17.000.

Sementara untuk industri air mineral Na Ie di Desa Ajun Jeumpit, juga sudah memproduksi air mineral galon dengan harga jual Rp 10.000, air mineral kemasan dengan harga Rp 13.000-Rp 13.500/Kotak. Setiap hari baru mampu memproduksi air mineral gelas sebanyak 900-1.000 kotak, untuk pemasaran Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Informasi itu, kata Muhammad Raudhi, sangat diperlukan, untuk mengetahui kemampuan kapasitas dan kualitas produksi air mineral IKM yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Kalau kapasitas dan kualitas produksi yang ada masih jauh dari kebutuhan pasarnya, maka Disperindag Aceh akan minta pihak bank untuk membantu pembiayaan. “Kita juga usahakan cari pengusaha lain untuk menanamkan investasinya ke sektor industri air,” ujarnya.

Raudhi menambahkan, pihaknya juga mengimbau kepada para pemilik hotel, cafe, restauran dan kantor-kantor pemerintah tidak lagi dari luar Aceh, tapi sudah bisa dipenuhi dari sumber lokal. “Karena, untuk belanja air mineral saja, setiap tahunnya puluhan miliar uang dari Aceh mengalir ke pulau Jawa dan Sumatera Utara,” tandasnya.

“Semua pihak harus bergerak serentak membantu pengusaha IKM, agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan pesat,” pungkas Muhammad Raudhi.

Sebelumnya melakukan peninjauan ke pabrik industri air mineral, Kadis Perindag Aceh, Muhammad Raudhi membagi-bagikan produk sabun merek ‘Mak Rah Pireng’. Sabun cuci piring produk lokal itu berhasil menyabet juara II kompetisi produk inovasi dunia pada acara Leaders in Innovation Fellowship di Royal Academy of Engeneering di Inggris, dua pekan lalu, dibagikan kepada seluruh pegawai Disperindag Aceh.

Pembagian sabun cuci piring produk lokal kemasan 200 ml itu, kata Raudhi, selain untuk mempromosikannya di lingkungan internal, juga agar mereka memanfaatkan produk lokal itu setiap hari. “Pihak luar negeri saja mengakui bahwa produk sabun cuci piring yang diproduksi IKM Aceh itu memiliki kualitas.”

Dengan menggunakan produk lokal, tambah Raudhi, selain mencintai produk daerah sendiri, juga akan membangkitkan semangat kegiatan usaha ekonomi masyarakat secara massal.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved