Opini

Kasih Sayang dalam Islam, Bagaimana?

HARI Valentine lazimnya disebut hari kasih sayang, dalam sejarahnya merupakan perayaan dari pengikut St Valentine

Kasih Sayang dalam Islam, Bagaimana?
facebook.com
Pemudi di Banda Aceh pada saat diluncurkannya tagar #ValentineBukanUntukKami. 

Begitu pentingnya cinta dan kasih sayang, Islam bahkan menjadikannya sebagai fondasi keimanan seseorang, ditegaskan oleh Rasulullah saw, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang akan terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. Sifat kasih sayang justru termasuk dalam akhlak mulia yang dicintai Allah Swt, dan sebaliknya Allah membenci akhlak yang rendah, yaitu orang-orang yang tidak memiliki rasa belas kasih sayang.

Rasulullah saw menegaskan, “Rasa kasih sayang tidaklah dicabut, melainkan hanya dari orang-orang yang celaka.” (HR. Ibn. Hibban). Orang celaka yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang di dalam hatinya baik untuk dirinya maupun orang lain. Itu sebabnya Allah Swt tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia lain. Menyayangi manusia dan makhluk lainnya, merupakan satu bentuk ketakwaan kepada Allah Swt.

Menjadikan rasa kasih sayang kepada makhluk dan lingkungan sebagai bentuk cinta kita kepada Allah Swt, akan membuat manusia tetap berpegang pada ajaran agama Islam dalam berkasih sayang. Tidaklah manusia menjadikan kasih sayang sebagai alasan berbuat zalim atau hal-hal yang melanggar larangan Allah.

Alquran pun mengajarkan hal yang demikian, “Katakanlah (hai Muhammad), `Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Kasih sayang itu ditempatkan secara benar sesuai koridor agama dengan menjadikan Allah sebagai cinta yang utama. Kecintaan kepada manusia dan makhluk yang lain menjadi manifestasi kecintaan kepada Allah. Bentuk kecintaan kepada Allah diwujudkan dengan cinta kepada Rasul. Ditegaskan Rasulullah, “Tidak sempurna iman kalian sampai aku lebih dia cintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan manusia lain keseluruhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saling menolong
Bentuk kasih sayang yang dianjurkan Rasulullah saw adalah dengan menghidupkan hati nurani, sehingga selalu diliputi nur kasih sayang, yaitu silaturrahmi yang melahirkan sikap saling menolong. Dengan adanya rasa kasih sayang, melahirkan empati dan kepedulian, sehingga mendorong manusia untuk menolong kesulitan yang dialami oleh manusia lainnya, yang pada akhirnya menciptakan kedamaian. Tanpa adanya rasa kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis dan egoistis tanpa memikirkan kepentingan orang lain.

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dari Mekkah dan orang-orang Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah. Begitu besar cinta dan kasih sayang, bahkan mereka lebih mempedulikan kondisi saudara mereka ketimbang diri mereka sendiri.

Firman Allah Swt, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Memahami makna kasih sayang dalam Islam, menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang benar-benar memerintahkan manusia untuk saling mengasihi dan menyayangi. Hal ini menafikan stigma bahwa Islam adalah agama yang keras dan menyukai kekerasan. Menjalankan ajaran Islam untuk menyayangi manusia dan makhluk lain, menjadikan seorang muslim menunjukkan jati diri yang sesungguhnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved